Material Rekonstruksi Situs Liyangan Tak Sepenuhnya Asli, Batu Pengganti dari Merapi

Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah memugar talud di kompleks Situs Liyangan di Desa Purbosari, Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. (Antara/Heru Suyitno)
25 November 2018 10:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, TEMANGGUNG — Rekonstruksi talut Situs Liyangan di lereng Gunung Sindoro Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah tak mungkin sepenuhnya menggunakan material asli. Sekitar 30%-35% struktur bangunan cagar budaya di Temanggung, Jateng itu dibikin dengan menggunakan batu baru.

Demikian diungkapkan Ketua Tim Pemugaran Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Eri Budiarto. "Karena sebagian batu asli hancur atau hilang, maka dalam pemasangan situs ini kami menggunakan batu baru sejenis yang didatangkan dari lereng Gunung Merapi," ungkapnya ketika dihubungi Kantor Berita Antara di Temanggung, Jateng, Kamis (22/11/2018).

Berdasarkan hasil ekskavasi di Situs Liyangan diketahui bahwa sekitar 35% batu-batu asli rusak sehingga harus diganti. Balok-balok batu andesit itu harus diganti dalam rekonstruksi. Untuk mengganti batu lama yang rusak, batu pengganti dipesan dari perajin batu di sekitar kawasan Gunung Merapi.

"Balok-balok batu baru tersebut dicarikan yang sejenis dengan batu yang ada di Situs Liyangan. Batu-batu baru tersebut diberi tanda untuk membedakan dengan batu lama. Batu-batu baru diberi tanda agar pengunjung bisa mengetahui bahwa batu itu sudah diganti.

Ari mengatakan dalam pemugaran bangunan cagar budaya di Situs Liyangan tersebut, tim tetap melakukan pencarian batu asli. Kalau ditemukan yang asli, katanya, tentu penggunaan batu baru akan berkurang. "Dalam perjalanan pemugaran biasanya ditemukan batu asli sehingga nantinya penggunaan batu baru tidak sampai 35%," katanya.

Pemugaran talut yang membatasi teras kedua dengan teras ketiga Situs Liyangan tersebut direncanakan selesai pada akhir Desember 2018. Pemugaran tersebut melibatkan 30-40 tenaga kerja yang sebagian besar adalah tenaga lokal. "Pemugaran tersebut ada empat tukang yang sudah berpengalaman dari BPCB, sedangkan sisanya memberdayakan tenaga lokal," katanya.

Ia mengklaim tidak ada kendala berarti dalam pemugaran talud Situs Liyangan tersebut. Meskipun diakuinya, akhir-akhir ini, ada hujan sehingga waktu pengerjaan tidak bisa optimal.

Pada 2017 tim BPCB telah berhasil memugar pagar candi induk Situs Liyangan yang membujur ke barat dan memugar trap tangga di bagian talud yang membujur ke utara. "Ke depan, pemugaran akan dilanjutkan untuk pagar candi yang membujur ke barat sisi selatan," katanya.

Situs Liyangan ditemukan pada kedalaman 10 m-12 m terpendam material yang diduga akibat letusan Gunung Sindoro. Akibat bencana alam tersebut, kondisi situs peninggalan zaman Mataram Kuno itu tidak lagi utuh, bangunan dari kayu hancur, dan sebagian ditemukan berupa arang dan bangunan dari batu sebagian berserakan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara