Anggaran Pendidikan Jateng Capai Rp5 Triliun

Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi (paling kanan), saat menghadiri acara talkshow di Hotel Gets, Kota Semarang, Senin (27/11 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
28 November 2018 10:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Sektor pendidikan merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan Jawa Tengah (Jateng). Oleh karena itu, tak heran jika sektor pendidikan menyerap anggaran cukup tinggi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jateng pada 2018.

Hal itu disampaikan Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi, seusai menghadiri acara talkshow bertajuk Tantangan Pendidik di Era Milenial di Hotel Gets, Kota Semarang, Selasa (27/11/2018).

Rukma menyebutkan selama 2018, anggaran yang dikeluarkan Pemprov Jateng untuk sektor pendidikan mencapai 20% dari total APBD Jateng, yakni Rp25 triliun.

“Saya rasa di antara provinsi yang lain hanya Jateng yang berani mengikuti aturan untuk menganggarakan 20% dari APBD untuk pendidikan. Tahun 2019, kita juga menganggarkan 20% dari APBD untuk pendidikan,” terang Rukma sesuai acara kepada wartawan.

Rukma menyebutkan mulai tahun 2018, kewenangan SMA, SMK, dan SLB sudah ada dalam pengawasan pemprov. Hal itu membuat tanggung jawab pemprov Jateng semakin bertambah.

Tak hanya menangani sarana dan prasarana atau infrastruktur pendidikan jenjang SMA/SMK, Pemprov Jateng juga harus mengurusi kesejahteraan guru tidak tetap (GTT) dan guru honorer. Untuk meningkatkan kesejahteraan GTT dan guru honorer, Pemprov Jateng telah mengeluarkan kebijakan pemberian gaji sesuai upah minimum kabupaten/kota (UMK) tempat tenaga pendidik itu mengajar plus insentif 10%.

“Kebijakan itu sudah berlaku sejak 2018 dan tahun depan juga akan kembali diterapkan. Oleh karena itu, kami juga mendorong pemerintah kabupaten/kota menerapkan kebijakan yang sama dalam pemberian GTT dan guru honorer kepada guru yang menjadi kewenangannya [SD dan SMP],” imbuh politikus PDIP itu.

Dengan anggaran yang cukup besar itu, Rukma pun berharap kualitas pendidikan di Jateng bisa semakin baik ke depannya. Kualitas yang baik, menurut Rukma, tak bisa dilepaskan dari tenaga pendidiknya.

Rukma menilai kualitas tenaga pendidik di Jateng sudah cukup baik. Bahkan mayoritas tenaga pendidik di Jateng berjenjang pendidikan S1, baik GTT maupun yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS).

Kendati demikian, ia menilai sebagai tenaga pendidik guru tak hanya dituntuk untuk memberikan pengajaran. Guru juga dituntut memberikan pendidikan karakter, etika, maupun spiritual di era milenial seperti saat ini.

“Guru itu seharusnya juga memiliki kepekaan dalam memfasilitasi pendidikan anak. Jangan hanya memberikan ilmu pengetahuan, tapi juga penerapannya. Kemudian, sebisa mungkin memberikan analisis. Jangan sekadar hafalan,” sambung Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Hari Wuryanto.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya