6.600 M Pedestrian Manjakan Pejalan Kaki di Semarang

Pedestrian Kota Semarang dibangun dengan nuansa seni. (Okezone/Taufik Budi)
02 Desember 2018 18:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang telah membangun 6.600 m pedestrian demi memanjakan para pejalan kaki. Pedestrian atau trotoar itu bukan sekadar lebar dan nyaman untuk berjalan kaki, namun juga menonjolkan sentuhan seni.

Sebagaimana diulas Liputan Khusus Okezone.com, Sabtu (1/12/2018), Kota Semarang merupakan salah satu daerah yang memberi perhatian lebih kepada para pejalan kaki.  Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengklaim hingga 2017 terdapat sekitar 6.600 m pedestrian dibangun di sejumlah ruas jalan kotanya.

Konsep pembangunannya bukan hanya mengandalkan lebar dan luas, tetapi juga didukung dengan ornamen serta bangku bagi pengguna jalan. “Di tahun 2017 ada 6.600 m. Jadi hampir 7 km trotoar yang kami perbaiki. Tahun 2018 kami terus melakukan upaya-upaya perbaikan. Harapan kami semua, trotoar di Semarang jadi lebih bagus, indah, sejuk karena banyak pohon-pohon besar di sekitar trotoar,” ujar pria yang akrab disapa Hendi tersebut, Kamis (29/11/2018).

Pembangunan pedestrian ini meningkat tajam, karena pada 2016 hanya sekira 3.000 m. Pemkot Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) bukan hanya membuat pedestrian baru, tetapi juga membongkar trotoar lama untuk diganti menjadi yang lebih lebar dan artistik.

Ruang bagi pejalan kaki, menurut Hendi, sangat dibutuhkan seiring dengan peningkatan kemacetan di beberapa ruas jalan. Sebab, salah satu indikator kemacetan adalah banyaknya pertumbuhan kendaraan baik roda empat roda dua yang tidak mampu diimbangi dengan pelebaran atau optimalisasi jalan raya.

“Ini enggak bisa berbanding lurus, karena fasilitas untuk memiliki kendaraan itu sangat mudah. Kredit 0% bahkan tanpa DP langsung bisa dapat kendaraan. Sedangkan untuk proses pelebaran jalan kita harus membebaskan lahan, satu sisi masyarakat belum tentu mau, jadi tidak berimbang,” jelasnya.

Demi mengatasi permasalahan yang kerap melanda kota metropolitan yang dipimpinnya itu, Hendi menggandeng berbagai pihak termasuk akademisi untuk melakukan studi. Hasilnya, pemerintah tak hanya perlu segera menyiapkan transportasi umum yang murah dan nyaman, tetapi juga trotoar.

“Selain transportasi yang bisa nyambung, connecting, dari ujung kota sampai ujung kota lain, kami harus memfasilitasi trotoar. Trotoar harus dibuat sebagus mungkin, senyaman mungkin, dengan pohon-pohon besar, juga harus ada dalam wilayah yang cukup strategis. Dengan demikian orang-orang akan lebih banyak memakai transportasi umum atau berjalan kaki,” beber dia.

Sejumlah ruas jalan di Kota Semarang yang kini tampak menarik dan di antaranya Jl. Pemuda, Jl. Pandanaran, Kawasan Simpang Lima, Jl. Veteran, Jl. Diponegoro, Jl. Madukoro, serta Jl. Imam Bonjol, Kota Semarang, Jateng. Pedestrian itu menjadi tempat yang nyaman, karena juga dilengkapi bangku dan guidance block, serta jalur khusus difabel.

“Kami juga buat trotoar ini harus bisa dipakai oleh semua kalangan tidak hanya manusia yang sehat secara fisik saja tetapi juga disabilitas harus bisa pakai trotoar sehingga juga kita kembangkan trotoar yang ramah untuk semuanya,” tukas Hendi.

Trotoar dibangun dengan lantai warna-warni yang diberi beberapa bollard patok untuk mencegah pengendara sepeda motor masuk, taman, serta conquered ball [bola-bola beton] di bagian tepi. Bola-bola beton ini dilukis dengan beragam motif yang mengangkat kearifan lokal Kota Semarang.

Diguratkan pada conquered ball itu Warak Ngendok, yang lekat dengan budaya Semarang. Warak Ngendok merupakan makhluk rekaan yang merupakan hasil akulturasi berbagai etnis di Semarang, yaitu China, Arab, dan Jawa. Kepalanya menyerupai kepala naga khas kebudayaan China, tubuhnya berbentuk unta khas etnis Arab, dan keempat kakinya menyerupai kaki kambing khas budaya Jawa.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Okezone.com