Air Kanal Banjir Semarang Luber ke Permukiman, BPBD Salahkan Hujan di Ungaran

Pekerja melaksanakan proyek normalisasi kanal banjir di Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Kota Semarang, Jateng, Rabu (26/9 - 2018). (Antara/R. Rekotomo)
08 Desember 2018 18:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang menuding air kiriman dari Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah sebagai pemicu meluapnya Kanal Banjir Timur Semarang  yang telanjur kondang dengan sebutan BKT atau Banjir Kanal Timur. Sampah yang mengganggu aliran air hanya dianggap persoalan sampingan.

Sesuai namanya, kanal banjir itu mestinya menjadi pencegah banjir di Kota Semarang. Nyatanya, hanya karena debit air yang mengalir dari hulu menderas, Sabtu (8/12/2018), sistem manajemen air di ibu kota Jawa Tengah itu gagal mencegah air meluber ke permukiman warga.

"Daerah Aliran Sungai (DAS) BKT kan terhubung dari daerah atas di Ungaran, Kabupaten Semarang, terutama di bagian selatan," kilah Kepala BPBD Kota Semarang Agus Harmunanto menyalahkan fenomena alam yang terbukti tak mampu dikelola dengan kanal banjir yang dibangun di kotanya itu.

Tudingan terhadap fenomena alam musiman itu ia ungkapkan di sela-sela kesibukan menangani banjir yang terjadi akibat luapan air BKT yang kembali terjadi pada Sabtu pagi. Air bah yang tak mampu dialirkan dengan mulus ke lautan dengan sistem kanal banjir yang diterapkan Kota Semarang itu menyebabkan banyak permukiman di sekitar sungai tergenang.

Agus menjelaskan debit air di Sungai BKT sangat ditentukan dari kondisi DAS yang berhulu dari Ungaran yang bermuara ke laut, apalagi jika di wilayah atas terjadi hujan deras. "Jadi, tadi malam [Santu, 8/12/2018 dini hari] sekitar pukul 01.30-03.30 WIB di daerah Ungaran hujan deras. Aliran DAS baru sampai di sini tadi pagi sehingga Sungai BKT meluber," katanya.

Pada akhirnya, ia mengakui aliran air tersebut terhambat tumpukan sampah yang menyangkut di Jembatan Kaligawe. Tumpukan sampah yang dibuang warga Kota Semarang itu membuat air melimpas ke permukiman warga di samping kanan banjir kanal.

Ia juga tak mengakui sistem manajemen air di Kota Semarang buruk, karena air menurutnya justru menyusup di sela-sela tanggul yang tengah diperbaiki dan belum selesai juga kala musim penghujan telah datang. "Ada yang bilang tanggulnya jebol. Bukan tanggul jebol. Jadi, airnya itu lewat sela-sela tanggul yang jadi jalan keluar masuk alat berat. Kan tanggulnya belum selesai dibangun," tukasnya.

Seandainya saja tanggul telah terbangun menyeluruh di sepanjang Kanal Banjir Timur Semarang sebelum musim penghujan datang, Agus Harmunanto yakin luapan sungai tidak akan melimpas ke rumah-rumah warga. "Kalau tanggulnya nanti sudah jadi, saya yakin kok tidak banjir lagi,” tegasnya.

Namun garis merah ia tekankan, seandainya perilaku warga Semarang yang gemar membuang sampah ke aliran sungai terus berlanjut, maka Kota Semarang akan tetap kebanjiran. “Tetapi, ya, itu. Sampah-sampah-nya jangan dibuang ke sungai. Tadi kan sampahnya menyumbat di Jembatan Kaligawe," ujarnya.

Berkaitan dengan antisipasi kembali melubernya Sungai BKT, Agus mengatakan seluruh jajarannya sudah bersiaga dan berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti BBWS Pemali-Juana dan Dinas Pekerjaan Umum. Beberapa jalur keluar masuk alat berat sudah ditanggul sementara, lanjut dia, alat-alat berat dan pompa air sudah disiapkan untuk menanggulangi luapan sungai, termasuk dapur umum.

"Ini kami masih terus koordinasi dengan BPBD Kabupaten Semarang untuk memantau perkembangan cuaca di Ungaran. Alhamdulillah, sampai saat ini masih aman, tidak hujan," katanya. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara