Sampah Sumbat Air Kanal, Semarang Salahkan Hulu

Operator mengoperasikan ekskavator untuk mengeruk sampah yang menumpuk di bawah Jembatan Kaligawe Sungai Banjir Kanal Timur Semarang, Jawa Tengah, Selasa (11/12 - 2018). (Antara/R. Rekotomo)
13 Desember 2018 21:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Kota Semarang lagi-lagi menyalahkan kawasan hulu sungai sebagai pemicu banjir di wilayah tersebut. Bahkan meskipun sebagian sampah yang menumpuk di bawah Jembatan Kaligawe dan memicu banjir terdeteksi merupakan sampah segar dari pasar tradisional setempat.

Sebagaimana diberitakan air kanal banjir timur Kota Semarang yang lebih kondang dengan sebutan BKT atau Banjir Kanal Timur meluber menggenangi permukiman di sekitarnya. Padahal, sesuai namanya, mestinya kanal itu dirancang memadai untuk mencegah banjir meskipun debit air membesar saat musim penghujan seperti sekarang.

Nyatanya, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Semarang, Kamis (13/12/2018), menyebarluaskan pernyataan melalui Kantor Berita Antara bahwa penumpukan sampah yang menyumbat aliran BKT  Semarang dan membuatnya meluap itu adalah salah warga di hulu sungai. "Hasil identifikasi kami di Kaligawe, membeludaknya Sungai BKT kemarin diakibatkan oleh sampah," ungkap Kepala DPU Kota Semarang Iswar Aminuddin pada mulanya.

Penumpukan sampah itu, kata dia, di antaranya berasal dari rumah-rumah yang ada di bantaran di kawasan hulu sungai, di samping karena limbah dari pasar-pasar di sekitarnya. Dimungkinkan, kata dia, sampah tersebut ada yang sengaja dibuang ke sungai dan ada yang tidak sengaja dibuang tetapi terbawa arus ketika debit air meningkat.

"Kebiasaan masyarakat juga menimbun barang bekas di sekitar tempat tinggalnya. Ketika air di Sungai BKT meningkat, barang-barang bekas itu terbawa arus dan akhirnya menyumbat," katanya.

Untuk mengantisipasi menumpuknya sampah, kata dia, rencananya pada 2019 akan dilakukan sterilisasi lahan di hulu Sungai BKT dan Sungai Tenggang. "Pada 2019, kami minta konsultan untuk mengidentifikasi berapa rumah di bantaran yang akan dibebaskan. Diidentifikasi dulu, bangunan liar atau bersertifikat hak milik [SHM]," katanya.

Yang jelas, kata Iswar, areal bantaran sungai harus difungsikan sebagaimana mestinya, bukan malah dibuat hunian atau bangunan yang semakin menghambat aliran air. Sekarang ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah menggarap normalisasi Sungai BKT, mulai Jembatan Majapahit hingga muara sepanjang 6,7 km.

Pengerjaan normalisasi dibagi dalam tiga paket, yakni Paket I mulai muara hingga Jembatan Kaligawe, Paket II mulai Jembatan Kaligawe hingga Jembatan Citarum, dan Paket III dari Jembatan Citarum ke Jembatan Majapahit Semarang. Sampai saat ini, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana melaporkan progres proyek normalisasi Sungai BKT Semarang secara keseluruhan sudah mencapai 60 persen.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara