DPR Soroti Potensi Ekonomi Kreatif Jateng Belum Tergarap Maksimal

Kerajinan cinderamata yang terbuat dari limbah kayu. (Antara)
10 April 2018 23:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — DPR serius mengembangkan potensi ekonomi kreatif (Ekraf) di Provinsi Jawa Tengah. Jateng dinilai mempunyai banyak potensi ekraf yang belum tergarap secara maksimal.

Anggota Komisi X DPR Mujib Rohmat menuturkan ekonomi kreatif kini memang menjadi perhatian serius pemerintah. Pasalnya, melalui ekraf itulah orang bisa menciptakan lapangan kerja baru untuk masyarakat yang manjur mengurangi angka pengangguran.

"DPR mendukung penuh ekraf untuk lebih maju khususnya di Jateng yang mempunyai banyak potensi ekonomi kreatif terutama kuliner, fashion, dan kriya. Untuk kuliner masyarakat Jateng sudah sangat kreatif seperti beberapa olahan singkong dari Salatiga," kata Mujib, Selasa (10/4/2018).

Dikatakan Mujib, DPR mempunyai tiga fungsi penting dalam mengembangkan ekraf, yakni menyusun undang-undang mengenai ekonomi kreatif, melakukan budjeting, dan melakukan edukasi. Penyusunan undang-undang, lanjut dia, merupakan arahan dari Presiden Joko Widodo untuk mengembangkan ekonomi kreatif.

Saat ini, ungkap dia, DPR sedang mengumpulkan beberapa kementerian terkait untuk menyusun undang-undang mengenai ekraf. "Kami bersama beberapa kementerian yang berhubungan dengan ekraf sedang menyusun undang-undang untuk memajukan ekonomi kreatif. Pasalnya, ekraf memiliki potensi yang luar biasa untuk itu undang-undang mengenai ekraf harus digarap sebaik mungkin," katanya.

Sementara itu, untuk budjeting, DPR menggelontorkan Rp780 miliar untuk ekraf selama 2018. Jumlah ini bisa saja bertambah asalkan ekraf terus konsisten memberikan pemasukan yang besar terhadap negara.

"Tahun ini DPR mengelontorkan Rp780 miliar untuk akses budjeting kepada pelaku industri kreatif dan angka ini bisa terus tumbuh asalkan ekonomi kreatif bisa semakin maju. Kami bisa saja memberikan Rp1 triliun jika bisa memberi kontribusi lebih kepada negeri," ujarnya.

Untuk fungsi yang ketiga, lanjut dia, DPR juga memberikan edukasi bagaimana mengembangkan sumber daya manusia agar lebih baik lagi serta menjaga sumber daya alam agar pelaku ekraf tidak mengeksploitasi alam dan senantiasa menjaganya.

Sementara itu, Deputi Permodalan Badan Ekonomi Kretatif (Bekraf) Fadjar Hutomo menuturkan, beberapa kota di Jateng sedang serius mengembangkan ekonomi kreatif seperti Kota Semarang, Kabupaten Banjarnegara dan Kota Salatiga dengan beragam produk ekonomi kreatif. Dikatakan Fadjar, bedasarkan data BPS 2016, kontribusi ekraf terhadap PDB adalah Rp992 triliun. Sedangkan, untuk 2017, sudah mencapai Rp1.000 triliun.

Fadjar menambahkan ada tiga sektor utama ekraf, yakni sektor kuliner menyumbang 41,6% sektor fashion 18% dan kriya sebesar 16% dengan beberapa potensi lain seperti film, aplikasi digital, dan musik. "Kuliner, fashion, dan kriya masih menjadi sektor utama pelaku bekraf sementara untuk film juga merupakan satu potensi yang cukup menjanjikan mengingat saat ini perfilman tanah air banyak yang mencapai box office dengan lebih dari dari 1 juta penonton seperti Dillan 1990, Pengabdi Setan, dan Warkop DKI," tuturnya.

Menurut Fadjar ada beberapa kendala pelaku ekraf sulit tumbuh yakni akses permodalan namun hal itu dapat diatasi dengan menggandeng perbankan. Melalui ekraf, lanjut dia, dapat menekan angka pengangguran sebab, sampai tahun 2017 pelaku ekraf di Indonesia mencapai 16,5 juta orang. Angka ini tentunya cukup besar dan diperkirakan ekraf semakin tumbuh dari tahun ke tahun. Diketahui setiap tahun ekonomi kreatif selalu tumbuh diatas 5% per tahun.