Sajikan Bubur India, Pengurus Masjid Pekojan Habiskan 30 Kg Beras Sehari

Ahmad Ali tengah mengaduk bubur India di samping Masjid Jami, Pekojan, Petolongan, Kota Semarang, Kamis (17/5/2018). (Solopos - Imam Yuda S.)
20 Mei 2018 10:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Sudah menjadi hal yang biasa bagi pengurus Masjid Pekojan, Petolongan, Kota Semarang, menyajikan bubur India bagi warga sekitar saat bulan suci Ramadan atau puasa. Hidangan kuliner warisan leluhur itu disajikan pengurus Masjid Pekojan bagi para jemaah yang berbuka puasa di masjid tersebut.

Seperti yang terjadi Kamis (17/5/2018), pengurus Masjid Pekojan terlihat sibuk menyajikan bubur India bagi para jemaah ingin berbuka puasa di masjid tersebut. Ada sekitar 250 mangkuk bubur India yang disajikan untuk para jemaah yang ingin berbuka puasa.

Pengurus Masjid Pekojan yang juga pembuat bubur India, Ahmad Ali, menyebutkan setiap harinya pihaknya menghabiskan 25-30 kilogram beras untuk membuat bubur India.

“Kalau dihitung-hitung tiap hari kami menghabiskan beras sekitar 25-30 kg untuk membuat bubur India ini. Itu belum termasuk bumbu-bumbu yang dibutuhkan. Ya bisa satu jutaan [rupah] lebih lah dana yang dihabiskan setiap harinya,” tutur Ali saat berbincang dengan Semarangpos.com disela meracik bumbu bubur India.

Meski menghabiskan biaya yang tak sedikit, Ali mengaku tidak keberatan. Hal itu dikarenakan menyajikan bubur India setiap bulan puasa sudah merupakan tradisi bagi warga Pekojan, yang merupakan keturunan Pakistan-Indonesia atau biasa disebut Koja.

 “Tradisi ini sudah berjalan hampir 100 tahun lebih. Jadi harus dipertahankan. Toh, dana yang dikeluarkan juga berasal dari infak yang Anda berikan,” tutur Ali.

Ali menceritakan awal mula bubur India dibuat di Masjid Pekojan. Bubur India kali pertama diperkenalkan para saudagar Pakistan yang singgah di masjid tersebut. Mereka singgah untuk berdagang di kawasan Pasar Johar.

Para pedagang India yang menetap di kampung tersebut pun lantas mewariskan resep bubur India kepada anak cucunya. Ali merupakan generasi keempat pembuat bubur India meneruskan tradisi itu.

“Senang bisa melanjutkan tradisi nenek moyang. Apalagi, membagikannya dengan warga lain yang membutuhkan. Bahkan, pernah ada orang dari Banyumas yang secara khusus datang ke sini untuk meminta bubur India. Dia bilang untuk istrinya yang tengah hamil. Ya, tentu saja kami layani,” beber Ali.

Salah seorang jemaah Masjid Pekojan, Rahman, asal Demak. Mengaku kerap berbuka puasa dengan hidangan bubur India di Masjid Pekojan. Ia mengaku tidak bosan setiap saat menyatap hidangan bubur India di masjid itu karena menu yang disajikan berbeda-beda.

“Setiap hari menunya ganti-ganti. Hari ini bubur India dipadukan dengan gulai. Besok lain lagi. Selama tujuh hari dalam sepekan, menunya ganti-ganti jadi enggak bosan,” tutur Rahman. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya