Wali Kota Semarang Ajak Jajaran Tinggalkan Hoaks

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memberikan tausiah di hadapan jajaran aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kota Semarang, Senin (21/5 - 2018). (Antara/Humas Setda Kota Semarang)
22 Mei 2018 04:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengajak jajarannya menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum berbuat kebaikan, termasuk menangkal hoaks atau berita bohong yang masih saja marak belakangan hari ini.

"Jangan mudah terpengaruh dengan berita bohong atau hoaks. Ini perlu dilakukan untuk menjaga kondusivitas Kota Semarang, apalagi memasuki bulan Ramadan ini," kata Hendi—sapaan akeabnya—di Kota Semarang, Jateng, Senin (21/5/2018).

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika, kata dia, setidaknya ada 800.000 berita hoaks yang beredar di seluruh wilayah selama 2017 yang memerlukan komitmen tinggi untuk menangkalnya. Artinya, kata politikus PDI Perjuangan ini, komitmen tinggi diperlukan dari seluruh warga bangsa, termasuk masyarakat Kota Semarang untuk menangkal hoaks yang dikhawatirkan justru bisa menggugurkan ibadah di Bulan Ramadan.

"Jika panjenengan baca dan tidak jelas dari mana asalnya dan tidak jelas kebenarannya cukup untuk panjenengan saja, tidak perlu di-share. Tetapi, jika yakin adanya manfaat, silakan di-share," katanya mengingatkan.

Orang nomor satu di Pemerintah Kota Semarang itu juga memastikan pelayanan publik yang dilakukan jajaran aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kota Semarang tidak akan menurun meski sedang menunaikan ibadah puasa. "Tidak ada alasan di Bulan Ramadhan ini leha-leha, lemes, atau tidak masuk kerja. Kalau punya niat yang baik, Allah SWT pasti akan memberikan berkah bagi kita semuanya," katanya kepada jajaran ASN.

Ia mengatakan para ASN telah memperoleh keleluasaan masuk kerja dari semula pukul 07.00 WIB, kini mundur menjadi pukul 08.00 WIB, sementara pulangnya maju menjadi pukul 15.15 WIB dari 16.00 WIB. "Coba dihitung secara matematika. Kalau hari biasa masuk pukul 07.00-16.00 WIB, kemudian di bulan puasa ternyata bisa menyelesaikan aktivitas dengan jam kerja pukul 08.00-15-15 WIB," katanya.

Dengan demikian, Hendi mengatakan sebenarnya yang terpenting adalah kemampuan mengukur diri bagaimana setiap aktivitas yang dilakukan dalam setiap harinya bisa menjadi berkualitas. "Kalau pikirannya puasa tidak bisa sarapan, makan siang, ya, lemes. Tetapi, kalau berpikir bahwa bulan Ramadhan ini banyak berkah dan pelipatgandaan pahala dalam tindakan sekecil apapun, ya, semuanya menjadi ringan," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara