Begini Kesiapan Jateng Antisipasi Teror saat Lebaran 2018

Plt. Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko menandatangani deklarasi antipaham radikal di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kompleks Pemprov Jateng, Kota Semarang, Jumat (25/5 - 2018). (Solopos/Imam Yuda S.)
25 Mei 2018 19:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Aksi teror kelompok radikal yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia belakangan ini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng). Pemprov Jateng tak ingin aksi teroris menyerang wilayahnya, terutama saat masa libur Lebaran 2018 atau Idulfitri 1439 Hijriah.

“Kita semua berharap terorisme sudah berakhir, tapi kita diingatkan karena ternyata masih terjadi. Oleh karenanya kita tidak boleh lengah dan harus meningkatkan kewaspadaan,” ujar Pelaksana tugas (Plt.) Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko, dalam sambutannya pada Rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkominda) Provinsi Jateng di gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jumat (25/5/2018).

Dalam rapat yang dihadiri segenap pimpinan kabupaten dan kota di Jateng, serta beberapa unsur pimpinan instansi, seperti Kapolda Jateng, Irjen Pol. Condro Kirono; Kasdam IV Diponegoro, Brigjen TNI Bakti Agus Fajari; serta Kepala Badan Intelejen Daerah (Kabinda) Jateng, Brigjen TNI Agus Joesmin, itu turut diwarnai pembacaan deklarasi antipaham radikal oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng.

Kapolda Jateng, Irjen Pol. Condro Kirono, menyebutkan kepolisian tak bisa bekerja sendiri dalam menangani terorisme. Harus ada kerja sama dari seluruh pihak atau jajaran pemerintah dalam memerangi paham radikal.

“Kejadian di Surabaya, beberapa waktu lalu, mengunggah kita untuk merapatkan barisan dalam menangani terorisme,” ujar Kapolda.

Kapolda menyebutkan selama kurun waktu 2014-2018 ada delapan aksi teror yang melanda wilayah Jateng. Dari delapan kejadian itu, satu di antaranya terjadi saat bulan puasa atau menjelang Ramadan, yakni saat aksi bom bunuh diri menyerang Mapolresta Solo, 1 Juli 2016.

“Ini yang perlu kita waspadai. Jangan sampai hal-hal semacam itu kembali terjadi. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan pengawasan dan kewaspadaan, tidak hanya di tingkat atas, tapi juga dari bawah atau lingkup RT dan RW,” beber Kapolda.

Condro juga mengingatkan bahwa paham radikal dan terorisme sudah banyak melanda masyarakat di Jateng. Terbukti, dari sederet aksi teror yang terjadi di Tanah Air, 334 orang pelaku di antaranya merupakan warga Jateng.

“Dari 334 orang pelaku teroris dari Jateng itu, 46 orang di antaranya masuk dalam daftar pencarian (DPO). Sementara 125 orang masih menjalani hukuman, 128 orang berstatus mantan napi teroris, dan 35 orang di antaranya meninggal dunia,” beber Kapolda.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya