Santri Kudus Pelajari Jam Matahari Masjid Menara

Sejumlah mahasantri Ma'had Aly Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kabupaten Kudus, Jateng melakukan praktik mengetahui waktu salat zuhur dengan menggunakan jam matahari di Masjid Al-Aqha, kompleks Menara Kudus, Sabtu (26/5 - 2018). (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
28 Mei 2018 05:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Puluhan santri Ma'had Aly Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (26/5/2018), melakukan praktik mengetahui waktu salat zuhur di Masjid Al-Aqha, kompleks Menara Kudus dengan menggunakan jam matahari.

Selain diikuti para mahasantri Ma'had Aly (Perguruan Tinggi Keagamaan berbasis pesantren), kegiatan tersebut juga dihadiri Mudir Ma'had Aly TBS Kiai Ahmad Faiz, Naib Mudir Ma'had Aly TBS Kiai Chirzil 'Ala, staf pengajar Ma'had Aly TBS Kiai Kholilurrohman, dan Pakar Falak Ma'had Aly TBS Noor Aflah. Dosen UIN Sunan Ampel Abdulloh Hamid yang tengah berada di Kudus, tampak tertarik pula melihat dan mengikuti praktik mengetahui waktu salat zuhur dengan menggunakan jam matahari.

Pakar Falak Ma'had Aly TBS Noor Aflah di Kudus, Sabtu, mengemukakan di antara metode penentuan awal waktu salat yang menarik untuk dikaji dan ditelisik lebih dalam, yakni metode jam matahari atau sering disebut sundial ini. Menurut dia sundial (jam matahari) merupakan instrumen falak yang sederhana, tetapi akurasinya sangat terjaga.

Berdasarkan catatan sejarah, sundial merupakan jam tertua dalam peradaban manusia. "Jam ini telah dikenal sejak tahun 3.500 Sebelum Masehi. Pembuatan jam matahari di dunia Islam dilakukan oleh Ibnu al-Shatir, seorang astronom muslim [1304-1375 M]," ujarnya.

Ibnu al-Shatir, kata dia, juga merakit jam matahari pada tahun 1370-an M di Masjid Umayyah di Damaskus. Ia mengatakan sundial merupakan alat tradisional penunjuk waktu yang mengandalkan pergerakanan sinar matahari. "Prinsip kerja jam ini, yaitu dengan menunjuk berdasarkan letak matahari dengan cara melihat bayangan matahari," ujarnya.

Di Indonesia, kata dia, jam matahari biasanya dibuat dari tongkat atau semen serta sejenisnya dan ditempatkan di daerah terbuka agar mudah terkena sinar matahari. Kegunaan lain dari jam mayahari tersebut, kata dia, saat ini telah dibuat inovasi derajat 0-360 derajat, bisa untuk mengetahui arah kiblat.

"Selain itu bisa untuk ajimut bulan atau matahari ketika praktik rukyah," ujarnya.

Mudir Ma'had Aly TBS Kiai Ahmad Faiz menambahjab jam matahari ini akan tetap diajarkan kepada para santri Ma'had Aly TBS yang takhassusnya adalah ilmu falak. "Ini peralatan yang telah diwariskan para leluhur dari generasi ke generasi. Selain peralatan-peralatan falak modern, peralatan tradisional juga akan kami berikan," ujarnya.

Ia mengatakan pembelajaran jam mataharu dalam rangka menjaga keilmuan mewarisi segala bentuk yang ada dari nenek moyang, sehingga mengetahui sejarah keilmuan dan berusaha sekuat tenaga untuk mengembangkannya. Hal itu, lanjut dia, yang menjadi jargon para ulama. Pembelajaran soal jam matahari, lanjut dia, sebenarnya selalu diadakan mulai dari Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah hingga Ma'had Aly.

"Harapannya kami ingin semua kalangan menggunakan keilmuan yang ada, termasuk di masjid dipasang jam matahari tersebut," ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara