Ajukan Eksepsi, Terdakwa Kasus PT RUM Kambinghitamkan Negara

Massa dari warga Sukoharjo dan aktivis lingkungan berunjuk rasa di depan PN Semarang, Kamis (31/5 - 2018). (Solopos/Imam Yuda S.)
01 Juni 2018 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Sidang kasus perusakaan fasilitas PT Rayon Utama Makmur (RUM) Sukoharjo dengan agenda pembacaan eksepsi terdakwa digelar di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (31/5/2018).

Sejumlah pembelaan dibacakan kuasa hukum terdakwa, Zainal Arif dari LBH Semarang, dan Zainal Mustofa dari Peradi Solo, dalam sidang yang dipimpin Majelis Hakim, Sigit Haryanto, itu.

Salah satu pendamping hukum para terdakwa, Rizky Putra Endri, menyebutkan dalam sidang itu tim kuasa hukum meminta hakim melihat kasus perusakan fasilitas PT RUM Sukoharjo itu secara lebih mendetail. Kuasa hukum ingin hakim melihat terdakwa bukan sebatas pelaku perusakan, tapi juga alasan di balik aksi tersebut.

“Secara substansi, para terdakwa melakukan perusakan itu karena adanya paksaan secara mental. Adanya perusakan oleh massa terjadi karena negara abai. Pemerintah setempat tak mengabaikan tuntutan mereka yang terdampak limbah PT RUM,” ujar Rizky kepada Semarangpos.com seusai sidang.

 Rizky menyebutkan perusakan fasilitas PT RUM Sukoharjo terjadi akhir Februari lalu. Perusakan terjadi saat massa menggelar demo di pabrik PT RUM Sukoharjo.

Menurut Rizky saat itu massa jengkel karena berulangkali melapor ke pemerintah maupun aparat terkait pencemaran limbah udara PT RUM Sukoharjo, namun tak digubris.

“Akhirnya terjadi aksi itu. Setelah aksi itu, Pemkab Sukoharjo langsung memutuskan agar PT RUM menghentikan operasinya, bukan menutup seperti yang diinginkan warga,” tutur Rizky.

Sementara itu, kuasa hukum lainnya, Mazaya Latifasari, menyebut lima terdakwa yang dituding melakukan perusakan fasilitas PT RUM Sukoharjo itu hanyalah korban. Mereka tidak terlibat secara langsung dalam aksi perusakan fasilitas milik anak perusahaan PT Sritex.

"Semisal waktu Kelvin dikatakan membawa tumpukkan buku kemudian dibakar di pos satpam, itu tak sepenuhnya benar. Bisa dijelaskan, seperti waktu Iis berorasi berteriak di depan. Itu bukan untuk mengajak warga untuk melakukan penyerangan atau perusakan," jelas perempuan yang akrab disapa Maya itu.

Sidang eksepsi kali ini digelar dengan menghadirkan lima terdakwa. Kelima terdakwa disidang secara terpisah, yakni aktivis yang masih berstatus mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS),  M. Hisbun Payu atau Iis, Sutarno, warga Jumapolo, Karanganyar, dan Brilian, warga Desa Juron, Nguter, yang diancam dengan Pasal 170 ayat 1 atau Pasal 406 KHUP tentang Perusakan.

Sementara, dua terdakwa lainnya Sukemi, warga Desa Celep, Nguter dan Kelvin warga Desa Plesan, Nguter, diancam dengan Pasal 187 ayat (1) dan (2) dan 170 ayat (1) atau 406 KUHP tentang Perusakan dan Pembakaran.

Sidang itu kembali diwarnai dengan orasi dan aksi demo dari warga Sukoharjo dan aktivis lingkungan di depan PN Semarang. Aksi serupa juga sempat digelar pada sidang perdana kasus perusakan fasilitas PT RUM Sukoharjo itu, pekan lalu. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya