Dugaan Rektor Unnes Plagiat, Tim EKA Serahkan Bukti Baru ke Menteri

Anggota Tim EKA Kemenristekdikti, Prof. Supriadi Rustad (kedua dari kanan), saat berbicara dalam acara Rembuk Semarangan di TBRS, Rabu (19/9 - 2018) malam. (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
20 September 2018 13:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyatakan telah menemukan bukti baru terkait kasus plagiat yang dituduhkan ke Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Fathur Rokhman. Bukti tersebut bahkan sudah diserahkan Tim EKA kepada Kemenristekdikti sejak 2 Agustus lalu.

Hal itu disampaikan anggota Tim EKA, Prof. Supriadi Rustad, saat menjadi pembicara dalam acara Rembuk Semarangan bertajuk Unnes: Transparansi, Plagiasi, dan Kriminalisasi di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Rabu (19/9/2018) malam.

“Temuan terbaru sudah kami laporkan ke kementerian. Hasilnya berbeda dengan apa yang disampaikan institusi [tim investigasi Unnes]. Dokumen juga bukan 1-2, tapi ada 10-an. Hasil temuan lebih komprehensif, sama dengan yang ditemukan Litera [Universitas Negeri Yogyakarta],” tutur Supriadi.

Kendati demikian, Supriadi enggan menjelaskan secara detail bukti tergres dari hasil penyelidikan tersebut.

Sementara itu, Redaksi Litera UNY pada pertengahan Juli lalu, telah menyatakan bahwa karya Fathur Rokhman berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas yang diterbitkan jurnal tersebut pada 2004 tidak asli.

Pernyataan itu disampaikan menyusul adanya kemiripan antara karya Fathur Rokhman dengan makalah milik Anif Rida berjudul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas yang dipublikasikan Konferensi Linguistik Tahunan (Kolita) Atma Jaya pada 2003.

Meski demikian, tim investigasi Unnes melalui Prof. Mungin Edi Wibowo, pada 10 Juli lalu, menyatakan bahwa rektor Unnes tidak bisa dianggap plagiat. Hal itu dikarenakan kedua karya ilmiah itu memang mirip karena didasari hasil penelitian Fathur Rokhman yang tidak dipublikasikan pada 2002 lalu berjudul Pilihan Ragam Bahasa Dalam Interaksi Sosial Pada Ranah Agama di Pesantren Banyumas: Kajian Sosiolinguistik.

Menanggapi hal itu, Supriadi menilai karya-karya tersebut tidaklah asli. Dari penelusurannya ada karya mahasiswa lain yang menjadi acuan dari karya rektor Unnes maupun Anif Rida.

“Keduanya tidak asli. Ada pemilik lain yang lebih asli dari keduanya,” tutur Supriadi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya