Penghujan Baru Mulai, Sebagian Cilacap Kebanjiran

Banjir menggenangi halaman rumah warga Desa Nusawangkal, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (13/11 - 2018). (Antara/Sumarwoto)
13 November 2018 13:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Musim penghujan belum benar-benar dirasakan sebagian warga Jawa Tengah, namun sebagian lain wilayah provinsi itu justru sudah kebanjiran. Banjir dilaporkan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap Tri Komara Sidhy menggenangi sejumlah desa di wilayah timur Kabupaten Cilacap, Jateng, Selasa (13/11/2018)

"Berdasarkan laporan sementara yang kami terima, banjir menggenangi sejumlah desa di Kecamatan Nusawungu. Tinggi genangan air di pekarangan rumah warga berkisar 20-40 centimeter, ada beberapa rumah yang sudah kemasukan air dengan ketinggian sekitar 10 centimeter," katanya di Cilacap, Jateng, Selasa.

Ia mengatakan banjir tersebut hampir setiap tahun terjadi akibat limpahan air dari Sungai Bodo yang berada di perbatasan Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kebumen. Menurut dia, genangan air juga dilaporkan terjadi di Desa Sikampuh, Kecamatan Kroya, serta Desa Doplang dan Adiraja, Kecamatan Adipala, yang termasuk daerah langganan banjir.

"Namun berdasarkan laporan, genangannya masih normal. Kendati demikian, kami masih terus memantau perkembangan di lapangan dan mendata rumah-rumah warga yang terdampak banjir," katanya.

Ia mengimbau warga Kabupaten Cilacap khususnya yang bermukim di daerah rawan banjir dan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana tersebut. Menurut dia, hal itu disebabkan berdasarkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan diprakirakan akan berlangsung pada bulan Januari hingga Februari.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Urusan Pembangunan Desa Nusawangkal, Kecamatan Nusawungu, Rasikun mengatakan pihaknya masih mendata jumlah rumah warga yang tergenang banjir. "Namun diperkirakan ada ratusan rumah yang halamannya tergenang banjir terutama yang berada di dekat sawah dan merupakan daerah cekungan. Bahkan, sudah ada beberapa rumah yang kemasukan air," katanya.

Menurut dia, banjir yang menggenangi Desa Nusawangkal tidak semata-mata disebabkan oleh hujan lebat juga akibat luapan Sungai Kuniran yang bermuara di Sungai Bodo. Sementara itu, kata dia, air laut sedang pasang sehingga kondisi Sungai Bodo makin jenuh hingga akhirnya meluap.

Selain menggenangi halaman rumah warga, lanjut dia, banjir juga merendam 72 ha sawah di Desa Nusawangkal yang baru satu kali diolah oleh pemiliknya pascamusim kemarau. "Secara kebetulan sawah-sawah itu belum ditanami padi karena baru satu kali diolah. Memang ada sekitar lima orang yang baru menyiapkan persemaian," jelasnya.

Sadiah, salah seorang warga Desa Nusawangkal RT 003/RW 002, mengatakan banjir yang menggenangi halaman rumahnya sudah berlangsung sekitar satu pekan meskipun sempat surut. "Namun sekarang genangan airnya tinggi lagi. Alhamdulillah sekarang tidak sampai masuk rumah tapi kalau dulu sempat masuk sampai kisaran 30 centimeter," katanya.

Informasi yang dihimpun, selain di Desa Nusawangkal, banjir juga menggenangi Desa Klumprit, Kedungbenda, Karangsembung, Purwodadi, dan sebagian Desa Nusawungu, Kecamatan Nusawungu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara