Pakar Minta Website Angkutan Pariwisata

Ilustrasi bus pariwisata. (Antara)
15 November 2018 14:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG Pakar transportasi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, meminta, pemerintah menyediakan website yang bisa dibuka untuk memantau apakah angkutan pariwisata yang ada benar-benar layak beroperasi.

Dikatakan, keberadaan angkutan pariwisata musti diperhatikan agar kejadian kecelakaan angkutan pariwisata tak memakan korban kembali. "Kecelakaan bus pariwisata ini kan sering terjadi. Saya usul bagaimana pemerintah pusat bisa membuat website di mana semua bisa akses kalau dia akan mengunakan angkutan pariwisata itu," katanya Rabu (13/11/2018).

Menurutnya, malalui website tersebut nantinya bisa disediakan berbagai informasi mengenai angkutan pariwisata yang dimaksud, sehingga calon penyewa yang ingin menggunakannya tahu kelayakan alat angkutannya. Jika tidak layak, maka sudah seharusnya dihindari dan memilih yang lebih baik.

"Kalau ada website-nya nanti bisa tahu benar enggak ini angkutan pariwisata, kalau enggak jangan mau. Kemudian di situ nanti juga bisa lihat KIR-nya ada tidak, sehingga kita punya jaminan," ujar Djoko.

Selain itu, lanjutnya, para calon penyewa angkutan pariwisata hawrus meneliti dan tidak mudah tergiur dengan iming-iming harga yang murah. Menurutnya yang pokok bukan soal murah, namun keselamatan menjadi hal yang harus diutamakan.

"Sekolah dan kampus-kampus ini jangan mau ditawari angkutan yang murah kalau enggak selamat. Angkutan harus bagus," ucapnya.

Di sisi lain,  saat ini, ketiadaan angkutan yang secara jelas bisa menuju ke lokasi wisata membuat biaya sewa angkutan menjadi mahal. Padahal ketika bisa dikelola dengan baik, maka bisa jadi sumber pendapatan daerah.

"Kelemahan di Indonesia, seluruh objek wisata jarang ada angkutan umum menuju ke situ. Semua orang mesti dia sewa, itu yang menjadi mahal."

Dia menambahkan, keberadaan angkutan menuju lokasi pariwisata mendesak untuk diadakan agar biaya sewa maupun aksesnya menjadi mudah. "Cobalah di atur angkutannya agar bisa terjadwal. Kalau sudah ada jadwal angkutan yang rutin nantikan sudah tidak perlu sewa lagi," terangnya.

Dia berharap agar hal itu bisa mulai dibicarakan, karena sejauh ini Indonesia ketinggalan dibandingkan negara tetangga, yakni Malaysia maupun Thailand.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis