Setahun Berjalan, Kartu Tani Jateng Belum Efektif, Ini Faktanya...

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memimpin Rakor Kartu Tani di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jateng, Rabu (12/12 - 2018). (Semarangpos.com/Humas Pemprov Jateng)
12 Desember 2018 20:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Program Kartu Tani di Jawa Tengah (Jateng) belum berjalan secara efektif sejak diterapkan selama satu tahun terakhir. Data Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng, dari 2.429.371 kartu yang telah didistribusikan ke petani, baru sekitar 450.000 yang digunakan secara efektif atau sekitar 18%.

Kepala Distanbun Jateng, Yuni Astuti, mengatakan pihaknya akan terus mendorong penggunaan kartu tani. Pihaknya akan terus turun ke lapangan untuk menjelaskan kebermanfaatan program yang digagas Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, tersebut.

"Kartu tani sudah jalan dan memang ada ruang yang harus kita perbaiki bersama. Kita lakukan pendataan setiap tanggal 25 - 30 kita update datanya," kata Yuni saat menghadiri Rapat Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan Program Kartu Tani dan Distribusi Pupuk Bersubsidi di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Jl. Pahlawan, Semarang, Jateng, Selasa (12/12/2018).

Yuni menjelaskan kebermanfaatan kartu tani salah satunya untuk memastikan jaminan petani mendapatkan haknya sesuai dengan yang diberikan negara, yakni pupuk subsidi. Jika tahun ini dengan tingkat penggunaan sebanyak 18% dengan 1,7 juta transaksi, ia pun optimistis tahun depan akan lebih meningkat.

"Tapi yang penting kartu tani ini jalan, maka ayo pede saja. Ini sesuai track yang benar. Target tahun depan penggunaan kartu tani mencapai 50%, kita akan bikin roadmap-nya,” imbuh Yuni.

Data Distanbun Jateng per 11 Desember 2018, total ada sekitar 2.876.511 petani di Jateng. Dari jumlah sebanyak itu, 1.524.368 orang di antaranya atau sekitar 84,27% masuk dalam daftar petani pemilik lahan. Sementara, petani dengan lahan kurang dari 0,25 hektare masuk dalam daftar petani fakir miskin mencapai 145.118 orang atau sekitar 7,98%. Sementara, petani dengan lahan mencapai 0,25-1 hektare masuk dalam daftar petani miskin mencapai 125.527 orang atau sekitar 6,94%.

Sementara data petani yang memiliki lahan 1-2 hektare tapi masuk kategori fakir miskin mencapai 17.117 orang atau sekitar 0,95% dengan jumlah total lahan mencapai 24.937 hektare. Sedangkan petani miskin dan tidak punya lahan mencapai 753,803 orang atau sekitar 11,81%,” terang Yuni.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengaku adanya program Kartu Tani memberikan kemudahan Pemprov Jateng untuk melakukan pendataan pertanian di wilayahnya. Meskipun, masih banyak kelemahan antara lain pendataan yang membuat petani pemilik lahan berlimpah masih tetap mendapatkan subsidi atau tidak tepat sasaran.

Contoh-contoh ini mengonfirmasi, gara-gara kartu tani kita tahu banyak hal. Data pengambilan keputusan harus lebih presisi. Gara-gara kartu tani juga akhirnya kita bisa melihat produksi kita, sehingga nanti kebijakan kita mana yang disubsidi mana produksinya, termasuk apakah nanti impor atau tidak termasuk penanggulangan kemiskinan,” ujar Ganjar.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya