Ulama: Ibu Zaman Now Ditantang Lawan Gadget

Ketua I Yayasan Masjid Raya Baiturrahman K.H. Anashom (tengah) dan Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah dari Komisi Dakwah, Seni, dan Budaya K.H. Achmad Izzudin tampil dalam dialog interaktif Ulama Menyapa bertema "Peran Ibu dalam Perspektif Islam" di Kota Semarang, Jateng, Senin (17/12 - 2018). (Antara/MAJT)
18 Desember 2018 05:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Ulama K.H. Anashom mengingatkan tantangan yang dihadapi kalangan ibu pada era sekarang dalam mendidik anak adalah melawan pengaruh gadget. Peringatan tersebut diungkapkannya saat menjadi narasumber dialog interaktif Ulama Menyapa bertema "Sosok Ibu dalam Perspektif Islam" yang disiarkan di TV KU Semarang.

"Peran ibu begitu penting dalam upaya mendidik anak yang akan menentukan masa depan mereka. Peran vital tersebut jangan sampai tergantikan keberadaan gadget," katanya sebagaimana dipublikasikan Kantor Berita Antara berdasarkan sumber Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Kota Semarang, Jateng, Senin (17/12/2018).

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang itu mengingatkan sekarang ini perilaku dan tata krama pada anak-anak semakin memudar akibat terpengaruh gawai. Kondisi semacam itu, kata dia, berbahaya jika sampai sosok ibu sebagai orang tua lepas kontrol terhadap anak-anaknya sehingga perlu sentuhan lebih kreatif dalam mendidik anak.

Ada tiga karakteristik dan kodrati ibu terhadap anak, yakni mengajar, mendidik, dan mengasihi yang ketiganya harus tetap melekat, tidak luntur, apalagi terlupakan. "Ketiga [peran kodrati] ini jangan sampai luntur karena yang akan menentukan kualitas anak-anak untuk tumbuh menjadi generasi yang tanggung sebagai tunas bangsa," katanya.

Ketua I Yayasan Masjid Raya Baiturrahman Semarang itu, mengatakan kearifan lokal harus tetap dijaga, termasuk penyebutan berbagai istilah terhadap sosok ibu dalam budaya Jawa. Panggilan "simbok", "emak", dan "biyung", kata dia, menggambarkan hubungan emosional luar biasa antara ibu dan anak sebagai kearifan lokal yang harus dijaga di tengah penetrasi budaya asing.

Mengenai munculnya pendapat bahwa peringatan Hari Ibu sebagai perbuatan bid`ah, Kiai Anashon menambahkan dalam amalan ibadah tidak bisa hanya fokus satu dalil yang justru menyempitkan pemahaman dan pemikiran. Seperti Walisongo, kata dia, berhasil mengembangkan Islam di tanah Jawa karena menggunakan tradisi lokal, bukan menghilangkan tradisi yang sudah ada di masyarakat.

Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah dari Komisi Dakwah, Seni, dan Budaya Dr. K.H. Achmad Izzudin menambahkan sosok ibu mendapatkan porsi sedemikian terhormat dalam Islam. Ia mencontohkan hadis yang populer mengenai "Surga berada di bawah telapak kaki ibu", kemudian Rasulullah SAW menyebutkan ibu sebagai sosok yang dihormati sampai tiga kali, sebelum ayah.

Peringatan Hari Ibu, kata dia, merupakan hal esensial dan positif dilakukan sebagai momentum untuk muhasabah, sekaligus menyampaikan rasa syukur atas peran ibu yang luar biasa di tengah keluarga dan masyarakat. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara