Nisan Salib Dirusak, FKUB Magelang Ajak Kompromi

Penjaga makam Giriloyo, Karet, Kota Magelang menunjukkan nisan salib dari kayu yang dirusak orang tidak bertanggung jawab, Rabu (2/1 - 2019). (Antara/Heru Suyitno)
03 Januari 2019 05:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, MAGELANG — Belasan nisan berbentuk salib di Tempat Permakaman Umum (TPU) Giriloyo Karet, Kota Magelang, Jawa Tengah dirusak orang tidak dikenal. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat menganggap cara kompromi paling tepat dilakukan untuk menyelesaikan perkara tersebut.

Nisan makam yang dirusak itu, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Antara, tersebar di empat blok makam TPU Giriloyo, yaitu A1, A2, B1, dan B2. Nisan salib dari bahan kayu tercabut dari makam dengan posisi kayu yang sudah terbelah tidak berbentuk. Sedangkan nisan salib berbahan batu hancur berkeping-keping berserakan di sekitar makam.     

Polisi setempat kini tengah melakukan penyelidikan untuk mengetahui pelaku dan motif perusakan nisan berbentuk salib tersebut. Sementara itu, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Magelang menganggap permasalahan itu perlu diselesaikan secara kompromi antarpihak dengan melibatkan tokoh-tokoh agama sehingga kasus semacam itu tidak melebar.

Wakil FKUB Kota Magelang Ismudiyono, Rabu (2/1/2019), menuturkan pihaknya belum tahu persis posisi makam yang dirusak nisannya tersebut. Pasalnya, berdasarkan peraturan daerah, sudah ada pembagian blok untuk masing-masing agama bagi jenazah yang akan dikubur di permakaman tersebut.

Jika nisan yang dirusak tersebut terdapat di beberapa blok, ia menduga kemungkinan makam-makam itu tidak sesuai dengan blok yang sudah ditentukan. "Saya kira nanti dipertemukan satu pihak dulu, kemudian baru dengan pihak lain untuk mencapai kesepakatan," katanya.

Menyinggung masalah tersebut apakah perlu dibawa ke ranah hukum, dia mengatakan bisa saja dibawa ke ranah hukum tetapi harus adil dan duduk permasalahannya harus diselesaikan dulu. "Kalau memang penempatan makam tersebut tidak sesuai bloknya, ini juga sudah melanggar peraturan yang ada," katanya.

Ia mengimbau masyarakat  menaati ketentuan pengaturan blok sesuai agama yang dipeluk jenazah di TPU. "Kenapa aturan blok tersebut harus dilanggar, yang justru menimbulkan permasalahan di kemudian hari? Kalau memang ada kesepakatan makam yang tidak sesuai dengan bloknya dan harus dipindah sesuai bloknya, maka harus bisa diterima semua pihak," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara