2019, Politeknik Pekerjaan Umum Semarang Terima Mahasiswa Baru

Ilustrasi praktik kerja. (Kemendikbud.go.id)
03 Januari 2019 12:45 WIB Ayu Prawitasari Semarang Share :

Solopos.com, JAKARTA — Politeknik Pekerjaan Umum (PU) yang didirikan Kemen PUPR, Kemenristekdikti, dan Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang pada 2019 ini siap menerima mahasiswa baru untuk tahun ajaran 2019/2010.

Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenristekdikti, Jamal Wiwoho, mengatakan pendirian Politeknik PU di Semarang merupakan arahan Presiden Joko Widodo. “Pada 2019/2020 ini kami rencanakan menerima 50 mahasiswa baru di setiap jurusan sehingga totalnya ada 150 mahasiswa,” kata Jamal saat dihubungi Solopos.com, Kamis (3/1/2019).

Menurut Jamal Wiwoho, ada tiga jurusan di Politeknik PU Semarang. Ketiga jurusan itu adalah Teknologi Konstruksi Bangunan Air, Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung, serta Teknologi Konstruksi Jalan dan Jembatan. Pendirian Politeknik PU bertujuan memenuhi kebutuhan tenaga konstruksi terampil dalam pembangunan infrastruktur bidang PUPR. Yang diharapkan menjadi mahasiswa selain aparatur sipil negara juga dari masyarakat umum.

Sebelumnya, dilansir RRI, Jumat (28/12/2018), Menristekdikti M. Nasir, mengatakan pengajuan pendirian Politeknik PU merupakan langkah yang bagus untuk mensuplai tenaga kerja yang berkompeten, khususnya di bidang konstruksi. “Lulusannya diharapkan tidak cukup memiliki ijazah, namun harus mendapat sertifikat kompetensi” ujar Nasir pada acara Penyerahkan Izin Prinsip Pendirian Politeknik PU kepada Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Ruang Serba Guna Gedung Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat.

Basuki mengatakan selain bekerja sama dengan Undip, pihaknya juga bekerja sama dengan IHE Delft Belanda untuk penyusunan kurikulum dan tengah menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Jepang dalam penyediaan laboratorium. Lokasi Kampus Politeknik Semarang akan menggunakan Balai Uji Coba Sistem Diklat Perumahan dan Permukiman di Tembalang, Semarang.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian PUPR Lolly Martina Martief dalam laporannya menyampaikan saat ini industri konstruksi membutuhkan banyak tenaga kerja konstruksi. Dari total tenaga kerja konstruksi di Indonesia yakni sekitar 8,1 juta orang, 74% merupakan unskilled labour dengan pendidikan di bawah jenjang SMA.

Dari jumlah tersebut baru 485.534 orang (5,97%) yang memiliki sertifikasi kompetensi. Perlu peningkatan kapasitas tenaga kerja konstruksi dari unskilled labour menjadi tenaga kerja konstruksi yang terampil.

Politeknik PU memiliki keunggulan dibandingkan dengan Politeknik lainnya, di antaranya adalah lulusan akan mendapatkan sertifikasi profesi level terampil, kompetensi lulusan sesuai kebutuhkan di lapangan, terdapat Kurikulum Mata kuliah khusus seperti Green Contruction, Preservasi Jalan dan Jembatan, Pengenalan Teknologi Maju, Mitigasi Keadaan Darurat [bencana], Drainasi dan Pengendalian Banjir, Peraturan Perundangan, dan keterlibatan industri konstruksi,” jelas Lolly.