Pengamat: Pindah Posko ke Jateng Wujud Perang Urat Syaraf Prabowo-Sandi

Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. (Antara/Sigid Kurniawan)
04 Januari 2019 12:50 WIB MG Noviarizal Fernandez Semarang Share :

Semarangpos.com, JAKARTA — Kabar beredar yang menyebutkan rencana pemindahan posko pemenangan nasional Prabowo-Sandi dari Jakarta ke Jawa Tengah dinilai pengamat hanyalah wujud perang urat syaraf terhadap lawan politik.

Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, mengatakan bahwa rencana pemindahan posko Prabowo-Sandi tersebut masih menarik untuk dicermati karena pasangan calon nomor 2 dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019 itu sedang melakukan perang urat syaraf untuk menjinakkan basis massa pendukung Joko Widodo.

“Kalau kita cermati, BPN Prabowo-Sandi sedang melakukan penetrasi dan ekspansi ke jantung lawan. Saya pikir ini adalah sesuatu yang normal, Prabowo-Sandi sedang berupaya memperkecil ketimpangan elektoral di Jawa Tengah. Paling tidak mencoba mengimbangi suara Jokowi di Jawa Tengah, syukur-syukur kalau menang, dan sulit memang karena medannya ngak mudah, punya tantangan tersendiri. Namun sepertinya BPN Prabowo-Sandi sedang melakukan cek ombak,” tuturnya, Kamis (3/1/2019).

Dia melanjutkan, berdasarkan data Pemilu 2014, perolehan suara Jokowi jauh lebih unggul yakni sebesar 66,65% dibandingkan suara Prabowo, 33,35%. Dengan demikian, rencana pemindahan posko menurutnya merupakan upaya untuk mengikis dukungan terhadap lawan tanding dalam pemilihan mendatang.

Dalam strategi pendekatan pemasaran politik, lanjutnya, ada peta wilayah zonasi pemenangan berdasarkan aspek pemilih paling potensial yang terdiri dari variabel kepadatan penduduk, konsentrasi pemilih. Jawa, tuturnya, menjadi rebutan karena jumlah penduduknya besar dan padat, sehingga suara pemilih Jawa menjadi penentu.

Pertama, zona pertempuran primer, ini menjadi zona wilayah prioritas utama seperti Jawa Tengah. Kedua, zona pertempuran sekunder, jelas ada target minimal yaitu bagaimana mengimbangi suara Jokowi agar Prabowo tidak kalah telak, belajar dari kekalahan telak Prabowo-Hatta pada pilpres 2014 di Jawa Tengah.

“Agenda optimal adalah unggul dan memenangkan pertarungan pilpres 2019. Ketiga, zona pertempuran tersier, yaitu bukan zona utama kampanye, maksudnya adalah wilayah prioritas terakhir. Oleh karena itu, pembacaan skala prioritas harus tuntas diselesaikan capres dan cawapres,” paparnya.

Menurutnya, memenangkan kantong suara Jawa otomatis memenangkan pilpres 2019. Prabowo, katanya, harus kembali menghitung dan mengkalkulasi ulang faktor kekalahannya di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 2014.

Prabowo menurutnya, nampak ingin mengulangi sejarah yang sama, dengan berpegangan pada daya kejut Sudirman Said mampu mengimbangi Ganjar Pranowo pada Pilkada 2017. Salah satu faktornya menurutnya bisa dilihat dari pendekatan patron-klien, yaitu menganalisis karakter pemilih Jawa yang patuh pada kiai.

Menurutnya, pemilih dari kalangan milenial yang sudah akrab dengan internet, memiliki banyak sumber informasi. Segmen pemilih ini di Jawa Tengah menurutnya akan digarap tim Prabowo karena sangat potensial dan menjadi peluang bagi Prabowo.

“Ini menjadi tantangan tersendiri dan unik bagi Prabowo, apakah mampu dan berhasil melakukan zona market di Jawa Tengah memperluas basis dan melakukan penetrasi dan mengusik kandang Banteng,” pungkasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis