224 Wisatawan Terjebak di Karimunjawa, Menteri Sindir Lion Air

Menteri Pariwisata Arief Yahya dikerumuni wartawan di Grand Maerokoco, Kota Semarang, Jumat (4/1 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda Saputra)
05 Januari 2019 16:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Maskapai penerbangan Lion Air kembali mendapat kritik pedas. Kali ini, giliran Menteri Pariwisata, Arief Yahya, yang menyindir maskapai penerbangan berbiaya murah yang berpusat di Jakarta itu.

Arief menyindir Lion Air yang tak becus dalam mengatur jadwal penerbangan ke Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah (Jateng). Kritik itu disampaikan Arief menyusul tertahannya 224 wisatawan di Pulau Karimunjawa akibat cuaca buru.

“Soal Karimunjawa, saya sudah dapat laporan dari Pak Urip [Kadisporapar Jateng]. Sebenarnya [masalah] itu tidak harus terjadi. Saya sebut saja, terutama Lion Air, saat musim liburan enggak perlu diminta. Mohonlah ditambah additional flight,” ujar Arief di sela kunjungan ke Anjungan Kota Semarang di Grand Maerokoco, kompleks PRPP Semarang, Jateng, Jumat (4/1/2019).

Arief menilai layanan penerbangan seharusnya menjadi alternatif bagi masyarakat bila cuaca buruk melanda suatu perairan. Ketika liburan tiba, kemudian situasi pelayaran sedang memburuk seperti di Karimunjawa, Lion Air wajib memberikan layanan yang optimal.

Terlebih Lion Air, melalui maskapai Wings Air menjadi satu-satunya layanan penerbangan ke Bandara Dewandaru, Karimunjawa, dari Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang. Wings Air terbang ke Karimunjawa dengan durasi satu kali setiap hari, pulang dan pergi.

Arief menambahkan pihak Kementerian Pariwisata menargetkan Jateng mampu memberikan kontribusi wisatawan pada 2019. Minimal, lanjutnya Jateng bisa berkontribusi 10% dari total target pertumbuhan wisatawan secara nasional, yakni 20 juta jiwa.

Dengan target sebesar itu, 2 juta wisatawan bisa masuk ke Jateng. Tak cuma itu, ia juga memperkirakan sumbangan devisa yang dapat diraih dari target pertumbuhan wisatawan pada 2019 mencapai Rp20 miliar.

"Sehingga kita harapkan pariwisata jadi penyumbang devisa terbesar di tahun ini. Atau kira-kira jumlahya naik ketimbang 2018 kemarin yang memberikan capaian devisa Rp17 miliar," paparnya.

Untuk meraih target ambisius tersebut, ia menyarankan kepada Pemprov Jateng untuk menambah layanan pada Bandara Jenderal Ahmad Yani. Bagi Pemprov DIY, ia pun meminta supaya pembangunan Bandara New Yogyakarta Airport di Kulonprogo dapat dipercepat.

Sementara itu, bagi Lion Air keluhan ini bukan yang kali pertama diterima sepanjang tahun ini. Maskapai swasta terbesar di Tanah Air itu juga sempat kena semprot pemerintah saat terjadinya musibah kecelakaan pesawat Lion Air JT610, beberapa waktu lalu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya