Duh, Masih Ada Anak Putus Sekolah di Kudus

Slamet Daryanto, 15, warga Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, Kudus berjualan gandos di tepi Jl. Nitisemito, Kudus, Jawa Tengah, Senin (7/1 - 2019). (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
08 Januari 2019 17:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Kudus beranjak sejahtera, namun masih ada anak putus sekolah di kabupaten ini. Padahal, pemerintah daerah setempat katanya telah memberlakukan Program Wajib Belajar 12 Tahun dengan biaya pendidikan hingga jenjang SMP ditanggung pemerintah alias gratis.

Salah satu anak yang mengalami putus sekolah itu adalah Slamet Daryanto, 15, warga Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, Kudus, Jawa Tengah. Ia tidak lagi bisa melanjutkan sekolah saat belajar di kelas VIII SMP.

Andri Dwi Astuti, 46, orang tua Slamet Daryanto yang ditemui di rumah kontrakannya, Desa Pasuruan Lor, Kudus, Jawa Tengah, Senin (7/1/2019), mengakui anaknya tidak bisa melanjutkan sekolah sejak ayahnya meninggal dunia pada tahun 2016. Maklum, tidak ada lagi pemasukan penghasilan untuk keluarga setelah sang kepala keluarga tiada.

"Karena sering telat membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), akhirnya pada tahun 2017, dia tidak melanjutkan sekolahnya karena malu," ujar Andri Dwi Astuti yang didampingi Slamet Daryanto.

Selama tidak melanjutkan sekolah, kata dia, anak semata wayangnya itu hanya menjadi pengangguran. Untuk menghindari pergaulan yang tidak benar, akhirnya sejak dua bulan terakhir anaknya itu diminta untuk mencari pekerjaan.

Akhirnya, kata dia, ada tetangganya yang menawarinya menjadi penjual gandos karena tidak membutuhkan lamaran kerja, maupun modal yang kelewat besar. "Sepanjang mau kerja keras, untuk berjualan gandos tidak sulit," ujarnya.

Pendapatannya selama sehari berkisar Rp30.000 hingga Rp40.000 sesuai omzet penjualannya. Slamet Daryanto setiap harinya berjualan gandos sejak pukul 16.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. "Tergantung hasil jualan, jika ramai dapat upah Rp40.000, sedangkan saat sepi hanya Rp20.000," ujar Slamet Daryanto.

Hasilnya, kata Slamet, diberikan kepada ibunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena selain untuk kebutuhan berdua juga ada neneknya yang tinggal di rumah kontrakan yang merupakan gudang bekas tempat usaha. Sementara ibunya, kata dia, bekerja sebagai buruh di rumah makan dengan upah Rp40.000/hari.

Seorang pembeli gandos, Laila Agusriah, 21, mengakui tertarik membeli gandos yang dijual Slamet karena ingin membantu. Ia mengaku mengetahui kondisi keluarganya setelah ada pengguna media sosial yang mengunggah ke facebook.

"Untuk saat ini, saya hanya bisa membantu dengan membeli gandos yang kebetulan tempat jualannya di Jalan Nitisemito Kudus tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya," ujarnya. Ia juga berdoa semoga dagangannya laris sehingga bisa membantu perekonomian keluarganya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya



Sumber : Antara