Pemkot Semarang Gandeng Pemkot Toyama, BRT Trans Semarang Berbahan Bakar Gas

Dirjen Perhubungan Darat Budi Setyadi, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama Wali Kota Toyama Masashi Mori dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat peresmian BRT berbahan bakar gas di Kota Semarang, Jateng, Rabu (9/1 - 2019). (Bisnis/Alif Nazzala Risqi)
09 Januari 2019 16:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Sebagian bus rapid transit (BRT) di Kota Semarang bakal menggunakan bahan bakar gas. Langkah itu tercapai seetelah terjalinnya kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dengan Pemkot Toyama di Jepang.

Jumlah BRT yang akan dikonversi bahan bakarnya dari minyak bumi ke gas itu mencapai 72 unit dari total 144 BRT yang dimiliki oleh Pemkot Semarang.  Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan perubahan bahan bakar dari minyak menjadi gas akan mengurangi polusi di Kota Semarang.

Hendi--sapaan Hendrar Prihadi--memaparkan untuk program ini Pemkot mengelontorkan dana Rp5 miliar begitu pun dengan Pemkot Toyama. "Untuk pembiayaan program ini, kami berbagai 50% dari APBD pemkot dan 50% bantuan dari Pemkot Toyama sehingga kegiatan ini dapat terealisasi," kata Hendi, Rabu (9/1/2019).

Hendi mengatakan rencananya nanti akan ada tiga terminal pengisian bahan bakar gas untuk Trans Semarang di Tambak Aji, Kaligawe, dan Mangkang. Kendati demikian, untuk tahap pertama baru bisa mengisi gas di kawasan Tambak Aji.  

"Rencananya akan ada tiga tempat pengisian gas untuk BRT di Tambak Aji, Kaligawe dan Mangkang untuk melayani 72 unit BRT yang akan dikonversi," kata Hendi. 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyambut baik kerja sama antara Semarang dan Toyama itu. Pasalnya, menurut dia, saat ini sudah saatnya mengganti bahan bakar minyak menjadi gas. 

Menurut Ganjar, Kota Semarang bisa menjadi percontohan terhadap kota ataupun kabupaten lain menyediakan transportasi yang ramah lingkungan. Dia berpesan agar bukan hanya menyediakan transportasi yang ramah lingkungan namun juga harus murah.

"Saya apresiasi langkah Kota Semarang menggandeng Toyama untuk mewujudkan transportasi yang ramah lingkungan. Tapi jangan lupa harganya juga harus terjangkau untuk masyarakat," kata Ganjar. 

Wali Kota Toyama Masashi Mori menuturkan jika konversi bahan bakar minyak menjadi gas cukup bisa menekan polusi sampai 40%. Menurutnya, Kota Semarang terpilih dari 100 kota yang disurvei oleh Jepang, sehingga pemberian bantuan ini sangat tepat.

"Kami sudah melakukan survei pada 100 kota di dunia dan Kota Semarang yang terpilih untuk menerima bantuan dari Pemerintah Jepang untuk melakukan konversi bahan bakar BRT dari minyak menjadi gas," katanya. 

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Darat Budi Setyadi mengatakan, Semarang bisa jadi contoh kepada kota lain untuk transportasi ramah lingkungan. Kota Semarang juga berhasil mengelola BRT dengan baik dibandingkan kota lain. Dikatakan Budi, beberapa kota yang diberi hibah BRT dari Kementerian Perhubungan tak selamanya dikelola dengan baik.

Dia lalu mencontohkan Papua yang menerima bantuan BRT dari Kemenhub namun belum mampu mengelolanya secara maksimal. "Semarang menjadi salah satu kota dengan komitmen tinggi terhadap pengelolaan BRT. Kami harap kota - kota lain yang memiliki BRT bisa mencontoh Semarang," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis