Kendal Surplus Jagung Akibat Kesesuaian Musim

Ilustrasi petani jagung bekerja di ladang. (Antara/Saiful Bahri)
10 Januari 2019 14:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Ketersediaan jagung untuk pakan ternak di Kendal pada 2018 lalu berlebih alias surplus 62.375 ton. Penyebabnya adalah melonjaknya produksi jagung di kabupaten itu karena kesesuaian musim dalam bertanam.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, mengatakan kelebihan produksi jagung di Kendal untuk tahun 2018 akibat musim mendukung. "Waktu musim kemarau dan musim penghujan terjadi sesuai prakiraan," kata Pandu, Rabu (9/1/2018).

Dia menuturkan awal terjadinya penghujan diprediksi akan terjadi pada pekan ketiga bulan November, kenyataannya awal hujan benar-benar terjadi pada pekan ketiga bulan November. Alhasil petani bisa memprediksi waktu tanam dan waktu panen sesuai dengan hitungan-hitungannya juga.

Kebutuhan jagung pakan ternak di Kendal 121.332 ton dalam satu tahun dan produksi 183.707 ton. Wilayah sentra ternak di Kendal terpusat di Kendal bagian atas, yaitu di wilayah Kecamatan Patean, Sukorejo, Limbangan, dan Boja, hanya sebagian kecil berada di wilayah bawah.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, jumlah peternak keseluruhan ada 670 peternak. Sedangkan jumlah ternaknya terdiri dari 6 juta ekor ayam pedaging, 670.000 ayam petelur dan 12.000 ekor burung merpati.

Pandu Rapriat Rogojati menuturkan meski data di atas kertas produksi jagung berlebih, ada sebagian peternak terkendala mendapatkan pakan jagung. Kondisi tersebut harusnya disiasati dengan membeli banyak jagung pada panen raya, sehingga harga lebih murah.

"Dengan demikian peternak tidak akan mengalami kendala, karena naik turunnya produksi jagung masih sangat tergantung cuaca dan musim, oleh sebab itu ada musim melimpah dan juga ada musim produksi alami penurunan," terang Pandu.

Menurutnya ketersediaan jagung juga bisa berkurang akibat petani menjual ke pengepul besar dan selanjutnya didistribusikan keluar daerah. Hal inilah yang perlu menjadi perhatian bersama baik oleh peternak maupun instansi terkait.

Adapula pola kemitraan dengan pengepul kecil di desa-desa. Petani menerima bantuan modal, bisa berwujud bantuan benih atau pupuk, dan wajib menjual ke pengepul. Kemudian pengepul kecil terikat kontrak dengan pengepul besar dan pengepul besar terikat kontrak dengan pabrikan besar.

"Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab, berkurangnya ketersediaan jagung di daerah sendiri. Oleh karenanya, sekali lagi perlunya para peternak memiliki manajemen agar stok pakan ternak selalu tersedia untuk ternaknya," paparnya.

Pandu menuturkan problem rantai niaga ini sudah dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis