Ini Kisah Mantan Manajer Persibara Banjarnegara Diadili Komdis PSSI

Mantan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani. (Antara/Istimewa)
10 Januari 2019 09:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, JAKARTA Mantan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani akhirnya memenuhi undangan Komisi Disiplin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia untuk menjalani sidang di Kantor PSSI Rasuna Office Jakarta, Selasa (8/1/2019). Inilah kisahnya...

Sidang Komisi Disiplin PSSI terhadap Mantan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani itu dipimpin Ketua Asep Edwin, Wakil Ketua Umar Husein, dan anggota Yusuf Bachtiar. Dengan didampingi Boyamin Saiman selaku kuasa hukum, Lasmi Indaryani tak gentar menghadapi sidang yang mengadili pengakuannya atas coreng moreng PSSI di televisi.

Sidang dimulai tepat pukul 14.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB dengan agenda paling banyak mendengarkan keterangan dari Lasmi yang berlangsung kurang lebih dua jam. Komdis PSSI selanjutnya memperdalam sekitar satu jam untuk materi yang terkait dengan hukum sepak bola.

Seusai sidang, Boyamin Saiman kepada Kantor Berita Antara mengatakan bahwa persidangan berlangsung dalam suasana cair dan kadang-kadang disertai senda gurau, namun tetap fokus dan efisien. Materi yang disampaikan Lasmi kepada Komdis adalah semua yang diketahui, buka-bukaan dan tidak ada yang ditutupi terkait dengan dugaan pengaturan pertandingan sepak bola, termasuk dugaan permintaan/penyerahan uang kepada oknum-oknum yang terkait dengan sepak bola, sebagaimana juga disampaikan kepada Satgas Antimafia Bola bentukan Kapolri.

"Namun, karena sifat sidang tertutup, kami tidak berani membuka materi persidangan," aku Boyamin.

Boyamin menegaskan kembali bahwa pihaknya memenuhi panggilan Komdis semata-mata karena menghormati lembaga hukum PSSI itu. Komdis dalam sidang itu mengaku berkeinginan kuat untuk membantu membersihkan sepak bola Indonesia dari permainan kotor dan ajang judi. "Ternyata kami bertepuk dengan dua tangan, artinya Komdis lebih bertekad untuk membersihkan sepak bola Indonesia. Atas maksud yang sama inilah persidangan betul-betul efisien. Kami yakin Komdis mampu menjalankan tugasnya," kata Boyamin.

Bonyamin menyadari bahwa proses Komdis PSSI ini akan memberikan reward dan punishment bagi siapa pun yang terkait dengan sepak bola. "Dalam persidangan tadi, kami mengajukan diri sebagai whistleblower yang akan dilindungi oleh Komdis karena berani membongkar borok mafia bola," katanya.

Boyamin mengatakan bahwa kliennya tidak ingin mendapat sanksi dari Komdis. Namun, apa pun risiko yang harus diterima, termasuk sanksi, pihaknya ikhlas demi kemajuan sepak bola Indonesia.

Sebelumnya, Boyamin mengemukakan alasan Lasmi Indrayani memenuhi undangan tersebut, antara lain karena kliennya telah selesai menjalani proses hukum menjadi saksi di Satgas Antimafia Bola di Polda Metro Jaya pada tanggal 20 dan 21 Desember 2018. Pada hari Senin (7/1/2019) melengkapi kekurangan bukti-bukti yang terkait.

Boyamin mengatakan bahwa Lasmi pernah menolak hadir panggilan Komdis PSSI semata-mata ingin menghormati proses hukum di kepolisian. Karena telah selesai menjalani proses sebagai saksi di kepolisian, Lasmi berkehendak hadir di Komdis dengan alasan yang sama, yaitu mengormati proses hukum olahraga di PSSI.

Di lain pihak, kata Boyamin, PSSI juga telah menghormati proses hukum di kepolisian dengan kehadiran para pejabatnya ketika dipanggil Satgas Antimafia Bola. Berdasar informasi yang dia terima, Komdis PSSI berkeinginan kuat untuk menegakkan disiplin terhadap siapa pun pelaku pengatur pertandingan, termasuk akan memberikan sanksi meskipun orang-orang tersebut telah diproses hukum.

Komdis berkeinginan untuk tidak melepas begitu saja para pelaku dengan istilah jangan sampai ketika sudah dihukum penjara kemudian orang-orang tersebut kemudian tetap bebas beraktivitas di dunia sepak bola. Boyamin mengatakan bahwa pihaknya bersepaham dengan Komdis PSSI untuk memajukan sepak bola Indonesia.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara