DBD Mulai Merebak di Semarang, 22 Pasien Dirawat di RS Elisabeth dalam Sepekan

Salah seorang remaja putri yang terserang demam berdarah dengue (DBD) tengah dirawat di RS St. Elisabeth, Kota Semarang, Kamis (10/1 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
10 Januari 2019 18:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Penyakit demam berdarah dengue (DBD) mulai merebak di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya. Bahkan dalam kurun 10 hari terakhir, salah satu rumah sakit swasta di ibu kota Jateng itu, yakni RS St. Elisabeth, sudah menanggani 22 pasien yang terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti itu.

Kepala Humas RS Elisabeth, Probowatie Tjondronegoro, mengatakan jumlah pasien DBD yang dirawat di rumah sakitnya itu mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya.

“Selama bulan Desember kemarin ada 21 pasien yang dirawat di sini yang terkena DBD. Bulan ini [Januari], baru 10 hari berjalan sudah ada 22 pasien DBD yang masuk. Rata-rata merupakan pasien yang dirujuk ke sini dengan menggunakan kartu BPJS,” ujar Probowatie saat dijumpai Semarangpos.com di ruang kerjanya, Kamis (10/1/2019).

Perempuan yang akrab disapa Probo itu menambahkan rata-rata pasien DBD menjalani perawatan intensif selama dua sampai lima hari. Pasien DBD itu dibagi di tiga bangsal, yakni Vincentius, Fransiskus, dan Theresia yang diperuntukkan untuk anak-anak.

Salah seorang pasien DBD, Muslika, 48, warga Kampung Sumurejo RT 002/RW 006, Gunungpati, Kota Semarang, mengaku penyakit DBD memang sedang merebak di kampungnya. Bahkan selama satu bulan terakhir, sudah ada sekitar 13 orang di kampungnya yang terserang DBD.

"Rasanya demam, greges-greges terus semua badan rasanya gatal-gatal sekali. Ini saya sudah dua hari dirawat di sini," kata Muslika.

Gejala DBD dirasakan mulai suhu badannya naik drastis 40 derajat yang disertai mual, muntah-muntah dan bagian perut terasa sakit.

Kendati banyak warga yang terserang DBD, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menganggap hal itu belum darurat. Kepala Dinkes Kota Semarang, Widoyono, bahkan menilai penangganan wabah DBD di Kota Semarang sejauh ini masih dalam kondisi yang terkendali.

“Penanganan DBD di Kota Semarang sejauh masih bisa terkendali. Kalau pun ada pasien DBD, saya rasa jumlahnya belum terlalu banyak. Kalau data yang ada di kami, selama Januari ini baru empat warga Semarang yang menderat DBD. Mungkin yang dirawat di Elisabeth itu tidak semuanya warga Kota Semarang,” ujar Widoyono.

Widoyono menambahkan selama ini Dinkes Kota Semarang bersama instansi terkait secara rutin memberikan penyuluhan kepada warga terkait bahayanya penyakit DBD dan juga pencegahannya, salah satunya dengan metode 3M. Upaya itu pun cukup berhasil menurunkan tingkat penyebaran penyakit DBD.

“Pada 2015, pasien DBD di Kota Semarang itu mencapai 1.000-an orang. Tapi, 2018 lalu jumlahnya menurun pesat. Sepanjang 2018 kemarin pasien DBD di Kota Semarang sekitar 103 orang, di mana satu orang di antaranya meninggal dunia,” imbuh Widoyono.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya