BMKG: Waspadai El Nino hingga Februari

Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo. (Antara/Sumarwoto)
10 Januari 2019 17:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, CILACAP — Petani—khususnya yang menggarap sawah tadah hujan—diimbau untuk mewaspadai dampak femomena alam El Nino yang diprakirakan berlangsung pada bulan Januari-Februari 2019.

Peringatan itu disampaikan Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meterologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/1/2019). "Dengan adanya El Nino meskipun kategorinya moderat, pengairan sawah tadah hujan mungkin sedikit terganggu. Namun untuk sawah yang menggunakan irigasi teknis, saya kira tidak terganggu dampak El Nino," katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan dampak El Nino kategori moderat tetap perlu diwaspadai karena diprakirakan akan memengaruhi curah hujan. Dampak El Nino, katanya, bahkan juga harus diwaspadai seluruh masyarakat karena dapat memengaruhi kondisi cuaca.

"Biasanya saat puncak musim hujan seperti sekarang ini, setiap hari terjadi hujan, dari pagi hingga sore seolah tanpa ada jeda. Namun karena adanya pengaruh El Nino, biasanya setelah ada hujan akan kering selama beberapa hari, bahkan kadang kondisi cuaca pada pagi hari hingga siang terlihat cerah dan terasa panas namun sore harinya terjadi hujan lebat," jelasnya.

Menurut dia, saat kondisi cuaca pada pagi hingga siang hari terlihat cerah dan terasa panas, pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) akan meningkat sehingga dapat memicu terjadinya angin puting beliung Lebih lanjut, Teguh mengatakan El Nino merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan dan atmosfer yang ditandai memanasnya suhu permukaan laut (SST) di ekuator Pasifik Tengah (Nino 3,4) atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya, red.).

"Pengaruh El Nino di Indonesia tergantung kondisi perairan di wilayah Indonesia. Jika suhu perairan Indonesia cukup dingin, El Nino akan mengurangi curah hujan dan sebaliknya jika suhu perairan Indonesia cukup hangat, fenomena global tersebut tidak mempengaruhi curah hujan," katanya.

Ia mengatakan El Nino merupakan kebalikan dari La Nina yang ditandai dengan anomali suhu permukaan laut negatif (lebih dingin daripada rata-ratanya) di ekuator Pasifik Tengah (Nino 3,4). Menurut dia, La Nina secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat bila diikuti dengan menghangatnya suhu permukaan laut wilayah Indonesia.

Dalam hal ini, kata dia, anomali dianggap dalam kondisi normal ketika nilainya plus 0,5.  "Sampai pertengahan bulan Desember 2018, anomali SST di ekuator Pasifik Tengah berkisar 1,26, sedangkan pada bulan Januari 2019 berkisar 1,31 sehingga masuk kategori El Nino moderat," katanya.

Terkait dengan prakiraan curah hujan pada bulan Januari 2019, dia mengatakan secara umum berlangsung normal meskipun tidak mencapai maksimum. "Misalnya curah hujan bulan Januari di Cilacap dalam kondisi normal diprakirakan berkisar 300-500 mm. Oleh karena adanya El Nino, curah hujannya diprakirakan hanya mencapai kisaran 300 mm," katanya. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara