Terkait Plagiasi, Rektor Unnes Dipanggil Ombudsman

Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman. (Facebook/Fathur Rokhman)
11 Januari 2019 18:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Kasus dugaan plagiat yang menerpa Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Fathur Rokhman, rupanya belum sepenuhnya tuntas. Terbaru, guru besar ilmu Sosiolinguistik itu harus berhadapan dengan Ombudsman Republik Indonesia (RI) terkait kasus tersebut.

Informasi yang diperoleh Semarangpos.com, Fathur dipanggil Ombudsman untuk dimintai keterangan terkait kasus dugaan plagiarisme itu. Ia diminta datang langsung untuk memberikan keterangan di Ruang Abdurrahman Wahid lantai ke-7 Kantor Ombudsman RI, Jl. H.R. Rasunan Said Kav. C-19, Jakarta Selatan, Kamis (10/1/2019).

Meski demikian, Fathur tak bisa memenuhi panggilan Ombudsman RI itu. Asisten Ombudsman RI, Rudi Kurniawan, menyatakan rektor Unnes berhalangan hadir untuk memenuhi panggilan Ombudsman RI karena memiliki kegiatan lain.

“Beliau belum bisa hadir. Katanya, ada kegiatan lain. Kami akan jadwalkan ulang,” ujar Rudi kepada Semarangpos.com, Jumat (11/1/2019).

Rudi menyebutkan pemanggilan terhadap Fathur Rokhman itu merupakan yang kali pertama dilakukan Ombudsman RI. Sebelumnya, Ombudsman RI juga sudah meminta keterangan dari Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M. Nasir, terkait kasus dugaan plagiat yang menerpa rektor Unnes tersebut.

Pemanggilan dilakukan untuk menindaklanjuti Laporan Masyarakat No. Reg. 0366/LM/IX/2018/JKT mengenai dugaan penundaan berlarut yang dilakukan Kemenristekdikti terkait tindak lanjut atas pengaduan dugaan plagiarisme yang dilakukan rektor Unnes.

“Pemanggilan dilakukan terkait aduan masyarakat yang menilai Kemenristekdikti tidak tanggap dalam menindaklanjuti laporan teersebut. Rektor Unnes dipanggil dalam kapasitasnya hanya untuk dimintai keterangan,” imbuh Rudi.

Fathur diduga melakukan plagiat setelah karyanya berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas yang diterbitkan Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajaran Litera Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2004, mirip dengan artikel milik Anif Rida berjudul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas, yang dipublikasikan Konferensi Linguistik Tahunan (Kolita) Atma Jaya, Februari 2003.

Kedua artikel tersebut diduga menjiplak karya skripsi mahasiswa Unnes lainnya, Ristin Setyani, pada 2001 berjudul Pilihan Ragam Bahasa Dalam Wacana Laras Agama Islam di Pondok Pesantren Islam Salafi Al Falah, Mangunsari, Banyumas.

Isu dugaan plagiat Fathur ini pun sempat membuat pihak Unnes kalang kabut. Terlebih, kasus itu mencuat saat Unnes tengah menggelar Pemilihan Rektor Unnes periode 2018-2022, Juni lalu.

Kendati demikian, Menristekdikti telah menyatakan bahwa tuduhan itu tidak benar. Nasir dengan tegas menyatakan bahwa rektor Unnes tidak melakukan plagiat, hingga memuluskan langkah Fathur kembali menjabat sebagai rektor di salah satu kampus perguruan tinggi negeri di Kota Semarang itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya