Jalur Pedestrian Semarang Dilengkapi Beton Berpori, Ini Tujuannya...

Jalur pedestrian di Jl. M.T. Haryono, salah satu jalur yang sudah dipasang beton berpori yang lebih ramah lingkungan. (Antara/Humas Setda Kota Semarang)
13 Januari 2019 20:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang berupaya mewujudkan green city alias kota hijau dengan melengkapi fasilitas publik yang sesuai konsep pembangunan kota itu, di antaranya dengan pemasangan beton berpori.

"Konsep kota hijau ini, salah satunya diupayakan dengan jalur pedestrian dari beton berpori," kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (11/1/2019).

Beton berpori itu, kata Hendi—sapaan akrab Hendrar Prihadi, mampu menyerap air hujan ke dalam tanah meskipun permukaan buminya dibeton sehingga bisa mencegah terjadinya genangan air. Dia menjelaskan lapisan beton berpori paling atas memungkinkan air mengalir melalui matriks batu kecil ke puing yang lebih longga di bawahnya.

Di bagian paling bawah, terangnya, terdapat sistem drainase yang bisa menampung dan mengalirkan air yang terserap ke dalam tanah. "Dengan inovasi ini, ketika ada hujan, air tetap bisa terserap di tanah walaupun dibeton. Ya, untuk kenyamanan pejalan kaki juga," katanya.

Hendi mengklaim pemasangan beton berpori untuk jalur pedestrian itu bisa meningkatkan kenyamanan pejalan kaki sehingga tidak sepanas aspal ketika cuaca terik. "Selain mencegah genangan, bisa mengurangi pemanasan aspal ketika cuaca panas sebagai bagian mengejar target penurunan suhu udara di Kota Semarang," katanya.

Sekarang ini, terang dia, beton berpori telah terpasang di jalur pedestrian berbagai ruas jalan protokol, seperti Jl. dr. Sutomo, Jl. Veteran, Jl. M.T. Haryono, Jl. S. Parman, dan Jl. Abdurrahman Saleh. "Kemudian, di Kelurahan Kandri juga, di Waduk Jatibarang, sepanjang Kampung Kali, dan sebagainya," lanjutnya.

Hendi menegaskan Pemkot Semarang berupaya membuat Semarang menjadi lebih hijau, termasuk dengan memperbanyak penghijauan, seperti di Jl. Pemuda. "Kalau lewat Jl. Pemuda, tiang penerangan jalan kami maksimalkan untuk menaruh pot-pot tanaman. Semua kami upayakan, termasuk menggalakkan urban farming," katanya.

Belum lama, 72 unit Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang juga dipasangi konverter bahan bakar gas (BBG) untuk menekan emisi dan menghemat bahan bakar. Bekerja sama dengan Pemerintah Kota Toyama, Jepang, moda transportasi massal yang sudah terpasangi konverter itu bisa menekan emisi gas buang.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara