Dubes Tiongkok Datangi MAJT Semarang Jelasan Uighur

Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian (tengah) didampingi Ketua Dewan Pelaksana Pengelola (DPP) Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang Prof. Noor Achmad, dan sejumlah ulama saat berdialog di sela-sela kunjungannya di MAJT Semarang, Kamis (10/1 - 2019). (Antara/Zuhdiar Laeis)
13 Januari 2019 22:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian, Kamis (10/1/2019), berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Jawa Tengah. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan persoalan yang terjadi terhadap muslim etnis Uighur di Provinsi Xinjiang, Republik Rakyat Tiongkok.

Dalam kunjungan di MAJT Semarang itu, Xiao ditemui Ketua Dewan Pelaksana Pengelola (DPP) MAJT Semarang Prof. Noor Achmad dan Ketua Dewan Penasihat yang juga mantan gubernur Jateng, Ali Mufiz. Keduanya didampingi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng K.H. Ahmad Darodji, Rais Syuriah PCNU Kota Semarang K.H. Hanif Ismail, dan Ketua PWNU Jateng K.H. Muzammil. Hadir pula beberapa akademisi, antara lain Rektor Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang Prof. Edi Noersasongko, dan Wakil Rektor IV Universitas Negeri Semarang (Unnes) Agus Nuryatin.

Didampingi penerjemah, Xiao menegaskan sampai saat ini terdapat setidaknya 23 juta umat muslim di Tiongkok yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Xinjiang. Secara panjang lebar, ia menceritakan hubungan baiknya dengan banyak kawan-kawannya yang beragama Islam, termasuk semasa bersekolah yang sampai saat ini masih diingatnya.

Selama ini, kata dia, umat Islam di Tiongkok yang tersebar di berbagai daerah tidak menghadapi persoalan apapun dalam menjalankan dan menunaikan peribadatan. Terkait kondisi yang terjadi di Provinsi Xinjiang, khususnya terhadap etnis muslim Uighur, diakuinya, bukan merupakan persoalan yang berkaitan dengan agama, melainkan permasalahan hukum.

Provinsi Xinjiang, kata dia, merupakan daerah otonom dengan multi etnis, agama, dan budaya, tetapi ada segelintir etnis Uighur yang ingin memisahkan Xinjiang dari Tiongkok. Ditegaskan Xiao, hanya segelintir orang dari Uighur yang melakukan kekerasan dan perlawanan untuk memisahkan diri, tetapi sebagian besar, termasuk dari suku Uighur tetap mendukung kesatuan negara.

Ia menyayangkan beredarnya bermacam rumor terkait muslim etnis Uighur yang menyudutkan Tiongkok, padahal kondisi sebenarnya tidak seperti yang selama ini beredar. Untuk menepis rumor yang keliru, Xiao telah mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh ulama di Indonesia, seperti dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah untuk menjelaskan informasi yang sebenarnya.

Pemerintah Tiongkok bahkan juga meminta kepada para duta besar negara sahabat, termasuk Indonesia, untuk berkunjung langsung ke Xinjiang dan melihat sendiri apa yang terjadi.

Sementara itu, Ketua DPP MAJT Semarang Prof Noor Achmad mengakui pentingnya kehadiran Duta Besar Tiongkok untuk menjelaskan persoalan yang menimpa umat muslim di Xinjiang. "Tadi sudah dijelaskan bahwa persoalan suku Uighur merupakan persoalan internal Pemerintah Tiongkok dalam menangani adanya separatisme yang dilakukan sebagian suku Uighur, bukan seluruhnya," katanya.

Namun, kata mantan Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang itu, selama ini kebijakan Pemerintah Tiongkok sudah cukup fair terhadap umat muslim di negara tersebut. "Terbukti dari adanya 56.000 lebih kiai atau imam, 35.000 masjid, dan jumlah umat muslimnya kurang lebih 23 juta. Berarti, rata-rata setiap 600 muslim di sana punya satu masjid," kata Noor.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara