Apindo Ungkap Penyebab Defisit Perdagangan Jateng di 2018

Kinerja impor Provinsi Jawa Tengah 2018 yang dirilis BPS 15 Januari 2019. (Bisnis/BPS Jateng)
16 Januari 2019 02:50 WIB Yudi Supriyanto Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng mengungkapkan penyebab defisit neraca perdagangan yang terjadi di Jawa Tengah sepanjang 2018. Menurut Ketua Apindo Jateng Frans Kongi, penyebab defisit neraca perdagangan Jateng sepanjang 2018 adalah karena impor barang modal dan bahan baku.

Itu sebabnya, Frans Kongi mengatakan tidak perlu khawatir dengan defisit neraca perdagangan Jateng sepanjang 2018 lalu, karena impor yang terjadi merupakan impor untuk kegiatan produktif. Tingginya nilai impor yang terjadi sepanjang tahun lalu itu, menurutnya bisa saja terjadi lantaran ada investasi baru yang membuat ada barang-barang modal baru seperti mesin.

Menurutnya, harga-harga mesin yang didatangkan dari luar negeri ke dalam negeri untuk investasi baru tidak murah. Sementara itu, lanjutnya ekspor yang terjadi sepanjang tahun lalu juga mengalami peningkatan.

“Saya pikir bukan sesuatu yang terlalu merisaukan. Artinya begini, ekspor kita tetap jalan. Ekspor kita tidak menurun. Tapi, bisa saja kita ini ada investasi baru. Ada pemasukan barang modal. Barang modal itu mahal, seperti mesin-mesin, dan sebagainya,” kata Frans kepada Bisnis, Selasa (15/1/2019).

Dia menambahkan impor juga dilakukan untuk bahan-bahan baku produksi karena bahan-bahan tersebut tidak ada di dalam negeri. Menurutnya, hasil produksi yang bahan bakunya didapatkan dari negara lain beberapa di antaranya juga diekspor ke negara-negara lain.

“Saya pikir keadaan kita tidak terlalu membahayakan [nilai impor lebih tinggi],” katanya.

Dia menambahkan para pelaku usaha berharap pemerintah menjalin kerja sama komprehensif dengan lebih banyak negara agar kinerja ekspor bisa lebih tumbuh pada 2019. Negara-negara yang dapat diajak kerja sama oleh pemerintah, lanjutnya bisa seperti negara-negara di Asia Tengah, Afrika, atau Amerika Latin.

Menurutnya, produk-produk dari Jawa Tengah seperti garmen, kerajinan tangan, mebel, dan sebagainya memiliki potensi untuk diterima di pasar-pasar tersebut. Tidak hanya itu, perluasan pasar juga dapat menjadi pilihan bagi pengusaha jika terdapat hambatan di negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat.

“Mungkin saja, kita dengan Amerika Serikat ada halangan, kita bisa lari ke tempat itu. Yang terpenting kita memiliki dasar CEPA [Comprehensif Economic Partnership Agreement] dahulu,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya memperkirakan defisit neraca perdagangan Jawa Tengah sepanjang 2019 tidak akan jauh berbeda dengan 2018. Beberapa kondisi baik dari dalam maupun luar negeri menjadi salah satu penyebabnya. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis