Ganjar Pastikan Pelatihan Bencana Masuk Kurikulum Pendidikan di Jateng

Ilustrasi simulasi bencana bagi siswa sekolah dasar. (Solopos - Dok.)
18 Januari 2019 06:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, BREBES — Pelatihan kebencanaan dipastikan bakal masuk dalam kurikulum pendidikan sekolah di Jawa Tengah (Jateng). Dengan kurikulum itu, siswa SMA dan SMK di Jateng bakal menerima pelatihan kebencanaan dua kali dalam satu tahun.

Hal itu disampaikan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, saat menggelar kunjungan di Bumiayu, Kabupaten Brebes, Kamis (17/1/2019). Dengan pendidikan kebencanaan itu, diharapkan siswa lebih sigap saat menghadapi bencana dan mampu meminimalisasi jatuhnya korban jiwa.

“Saya mencoba menerjemahkan tanpa menunggu apa yang diperintahkan Presiden Jokowi bahwa kebencanaan masuk dalam kurikulum pendidikan. Kalau kita menunggu diubah dan dimasukkan ke kurikulum kelamaan,” ujar Ganjar dalam keterangan resmi.

Mengawali langkah itu, Ganjar mengajak seluruh komponen penanggulangan kebencanaan, seperti BPBD, PMI, SAR, Tagana, TNI, dan Polri untuk melakukan simulasi bencana di SMAN 1 Bumiayu, Kamis. Simulasi penanganan bencana itu diperagakan mulai dari gempa hingga kebakaran.

Pada simulasi itu, puluhan siswa tampak melakukan peragaan dengan serius. Mereka berhamburan lari ke titik kumpul. Sementara, para guru menghubungi tim Satgas BPBD terdekat yang langsung bergerak menyelamatkan korban yang terjebak reruntuhan.

Tak selang lama, sejumlah titik api muncul dan memicu kebakaran. Dengan sigap pihak sekolah menghubungi tim pemadam yang langsung mampu mengondisikan si jago merah.

"Ini momentum untuk inspirasi bagi siswa pendidikan kebencanaan bisa dilakukan dengan cepat dan sederhana. Namun jangan sendirian. Kita tadi ajak PMI, BPBD, SAR, Tagana dan juga polisi. Kita mengajarkan dan mereka bisa mempraktikan langsung apa yang dia lihat," katanya.

Ganjar berharap kegiatan ini bisa terinternalisasi dalam sikap siswa untuk melakukan mitigasi bencana saat berada di kelas hingga terlibat dalam operasi kemanusian,

"Ini akan dilakukan di seluruh sekolah di Jawa Tengah. Minimal setiap sekolah latihan 6 bulan sekali. Akan memunculkan kesiapsiagaan kita menghadapi bencana," katanya.

Terkait pengubahan kurikulum yang memasukkan kebencanaan, Ganjar mengatakan hal tersebut tidak terlalu mendesak. Menurut Ganjar, yang penting dilakukan saat ini adalah memberi pemahaman kepada guru dan siswa bahwa apapun mata pelajarannya, materi kebencanaan bisa diinternalisasikan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya