Aksi Protes Warnai Pengundian Lapak Pasar Wonodri Semarang

Suasana pengundian lapak Pasar Wonodri Semarang, Sabtu (19/1 - 2019). (Semarangpos.com/Humas Pemkot Semarang)
19 Januari 2019 16:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Dinas Perdagangan Kota Semarang menggelar pengudian kepada para pedagang Pasar Wonodri, agar bisa menempati lapak barunya. Proses pengundian itu digelar selama dua hari, mulai Sabtu-Minggu (19-20/1/2019).

Proses pengundian lapak itu sempat diwarnai aksi protes dari beberapa pedagang. Protes terjadi karena pedagang tidak terima dengan hasil pengundian karena mendapat lapak yang tidak sesuai dengan keinginan.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, memastikan tidak ada intervensi dalam proses pengundian lapak itu. Jika ditemukan adanya pedagang yang protes, ia menilai hal itu merupakan sebuah kewajaran.

 “Saya pastikan staf saya menjalankan tugas sesuai ketentuan. Silakan laporkan ke saya kalau ada staf yang menerima sesuatu untuk kepentingan tertentu. Saya akan tindak tegas. Kalau ada pedagang yang protes, rasanya biasa. Tapi, semangat kami adalah menata untuk lebih tertib,” ujar Fajar dalam keterangan resmi.

Proses pengundian lapak itu memang diwarnai protes dari beberapa pedagang, salah satunya adalah Wasimin. Pedagang berusia 59 tahun itu ingin mendapat lapak di lantai dasar atau lantai kesatu. Namun, hasil pengundian berkata lain atau tidak sesuai harapan.

Pokoke nyuwun ngandhap, wangsul ngandhap. Sak niki kathah ingkang wonten nginggil. [Pokoknya minta yang di bawah, kembali ke bawah. Sekarang banyak yang di atas,” ujar warga Wonodri Baru itu.

Fajar menyebutkan penataan pedagang di Pasar Wonodri sudah sesuai zonasi yang ditetapkan. Hal itu dilakukan untuk memudahkan pembeli menjangkau pedagang.

“Proses pengundian berlangsung sampai besok [Minggu, 20 Januari 2019].Penataan sesuai zonasi untuk memudahkan pembeli menjangkau pedagang. Sebenarnya justru menguntungkan pedagang,” ujar Fajar.

Zonasi yang ditetapkan pada Pasar Wonodri ini dibagi dalam tiga lantai. Lantai pertama digunakan untuk pedagang konveksi, sembako, kelontong, daging, ikan basah, dan ayam. Sedangkan lantai kedua diperuntukan bagi pedagang sayur, bumbu dapur, daging, ikan basah, dan ayam. Sementara lantai ketiga diperuntukkan bagi pedagang ikan pindang, bakso, makanan, tahu, dan tempe.

Proyek revitalisasi Pasar Wonodri yang menghabiskan dana hingga Rp21,7 miliar ini sempat molor dari jadwal awal. Pembangunan yang harusnya selesai akhir 2018 atau 26 Desember, baru rampung pada awal Januari. Molornya pembangunan pasar itu pun sempat menjadi sorotan banyak kalangan, termasuk legislatif, karena merupakan proyek 2018.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya