Jateng Terbanyak Saluran KUR UMKM

Pekerja menjemur kain pantai usai dilakukan pewarnaan, di kawasan industri rumahan, Krajan, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (22/8). - ANTARA/Mohammad Ayudha
29 Januari 2019 22:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Otoritas Jasa Keuangan mencatat Jawa Tengah sebagai provinsi terbanyak yang menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tertinggi pada 2018 ada di Jawa Tengah (Jateng) dengan nilai Rp21,22 triliun atau mencapai 17,63% terhadap total penyaluran KUR secara nasional yang mencapai Rp120,34 triliun.

"Sektor keuangan di Jateng tumbuh sangat baik. Penyaluran kredit juga tumbuh cukup tinggi. Namun, memang tidak setinggi nasional karena Jateng fokus kreditnya yang tumbuh tinggi untuk sektor UMKM. Jadi meskipun kredit tidak tumbuh setinggi nasional, tapi penyaluran UMKM itu sangat tinggi," kata anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Tirta Segara di Semarang, Senin (28/1/2019).

Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Aman Santosa menambahkan terlepas dari kinerja positif tersebut, pihaknya melihat masih adanya ruang yang cukup besar bagi industri jasa keuangan untuk meningkatkan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Jateng.

"Ada beberapa daerah yang kami riset potensi UMKM-nya sangat besar, ternyata industri keuangan yang masuk ke sana belum banyak. Padahal, ada potensi itu. Berdasarkan riset OJK, Kabupaten Demak, Jepara, Pekalongan, Wonogiri merupakan daerah dengan jumlah UMKM yang relatif banyak, tapi di sisi lain penyaluran kredit UMKM di daerah tersebut masih di bawah rata-rata Jateng," ucapnya.

Penyaluran kredit mikro di Jateng juga masih relatif kecil apabila dibandingkan dengan jumlah usaha mikro. Data 2016 menunjukkan terdapat usaha mikro sebanyak 3.776.843 di Jateng atau sebesar 90,55% dari total UMKM dan menyerap 5.738.839 tenaga kerja. Namun, share kredit usaha mikro hanya sebesar 18,03% dari total kredit UMKM.

"Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar usaha mikro belum tersentuh pembiayaan dari industri jasa keuangan," papar Aman.

Untuk menyikapi berbagai dinamika dan tantangan perekonomian yang dihadapi, OJK mengaku telah menyiapkan beberapa program strategis yang terkait dengan alternatif pembiayaan sektor strategis pemerintah, akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, akses keuangan bagi UMKM dan masyarakat kecil, persiapan OJK dalam menghadapi revolusi industri 4.0, serta reformasi bisnis proses industri dan internal OJK.

"Selain mengimplementasikan kebijakan strategis OJK, kami akan tetap melakukan berbagai upaya penguatan dan penyehatan OJK di Jateng dan DIY untuk lebih meningkatkan ketahanan dan daya saingnya," terangnya.

Upaya penguatan dan penyehatan tersebut akan dilakukan melalui peningkatan permodalan, merger, konsolidasi dan akuisisi, penerapan tata kelola dan manajemen risiko yang lebih baik, serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan Teknologi Informatika (TI). Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan peran aktif asosiasi, pemegang saham, dan penguatan mekanisme pengawasan internal industri jasa keuangan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya