1.204 Warga di Jateng Terserang DBD

ilustrasi demam berdarah. (Solopos/Dok)
31 Januari 2019 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Sebanyak 1.204 warga Jawa Tengah (Jateng) terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD) selama Januari 2019. Dari jumlah sebanyak itu, 12 orang di antaranya meninggal dunia.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng menyebutkan dari 1.204 warga yang terserang penyakit DBD itu paling banyak berada di Sragen dengan jumlah mencapai 200 orang. Disusul Grobogan dengan 150 kasus, Blora 75 kasus, Cilacap 71 kasus, Pati 87 kasus, Jepara 87 kasus, Purbalingga 76 kasus, Boyolali 51 kasus, dan Kota Semarang 33 kasus.

“Dari jumlah sebanyak itu, 12 di antaranya meninggal dunia selama bulan Januari ini,” ujar Kepala Dinkes Jateng, Yulianto Prabowo, kepada wartawan di kantornya, Rabu (30/1/2019).

Yulianto menjelaskan, tren peningkatan penderita DBD di Jateng selalu terjadi di bulan Januari. Hal ini berkaitan dengan puncak musim hujan yang juga terjadi dalam kurun waktu Desember hingga Januari.

“Kalau diamati bertahun-tahun selalu Januari meningkat. Nanti Februari menurun dan April paling sedikit. Oktober nanti mulai naik sedikit-sedikit,” imbuh Yulianto.

Selain penyebab cuaca, penyebab lainnya yakni banyaknya genangan air hujan sehingga nyamuk pembawa virus DBD cepat berkembang biak. Di sisi lain, gejala penyakit ini hampir sama dengan penyakit lain sehingga sulit untuk didiagnosis.

“DBD itu dipengaruhi juga kesehatan lingkungan karena nyamuknya berkembang biak dalam kondisi tertentu,” jelasnya.

Yulianto menambahkan berdasar data yang dimiliki rata-rata penderita DBD berusia antara 5-15 tahun. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan jika DBD juga menyerang anak bayi di bawah lima tahun (balita) maupun kalangan lanjut usia (lansia). Hal itu disebabkan karena adanya mutasi virus.

“Kita mencanangkan status waspada KLB [kejadian luar biasa] di beberapa daerah karena kasus meningkat, seperti Sragen, Grobogan, Jepara, Pati, dan Kudus,” terangnya.

Ia pun mengimbau agar masyarakat selalu waspada termasuk peduli dengan lingkungan. Selain itu ia berharap tenaga medis menetapkan diagnosis dengue haemorrhagic fever (DHF) jika ada gejala DBD seperti demam tinggi.

“Saya imbau kalau ada anak panas langsung DHF, supaya waspada,” ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya