Johan Budi Ajak Mahasiswa UKSW Peka Terhadap Media

Pejabat Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi Sapto Pribowo (kiri), saat memberikan paparan pada acara talkshow di Kampus UKSW Salatiga, Jateng, Kamis (31/1 - 2019). (Semarangpos.com/Humas UKSW Salatiga)
01 Februari 2019 06:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Wajah pranata humas atau public relation (PR) dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami pergeseran. Karakteristik seorang PR saat ini tidak hanya dituntut berpenampilan menarik, tapi juga memiliki kepekaan terhadap awak media.

Hal itu disampaikan pejabat Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi Sapto Pribowo, saat mengisi talkshow bertajuk What is the Reality of Public Relation di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (31/1/2019).

Dalam acara yang digelar mahasiswa Program Studi (Prodi) Hubungan Masyarakat Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKSW Salatiga itu, Johan Budi menyebut profesi PR adalah talenta. Semua fungsi dan tugas kehumasan bisa dipelajari, namun tidak semua dapat melakukan karena dibutuhkan kepekaan.

“Kunci utama seorang PR adalah memahami apa yang disampaikan. Saat membawakan fungsi PR di depan awak media dan masyarakat pastikan anda pahami kondisi lembaga yang anda wakili. Jangan ucapkan sekecil apapun kebohongan, sebab sebuah lembaga akan dipercaya masyarakat apabila PR-nya dapat dipercaya,” ujar Johan Budi dalam keterangan resmi yang diterima Semarangpos.com, Kamis.

Pria yang sempat menjabat sebagai juru bicara KPK ini juga menyebut bahwa integritas seorang PR harus dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Disinggung mengenai cara Johan Budi dalam keseharian tugasnya termasuk dalam menangani media, lulusan Fakultas Teknik UI ini mengatakan bahwa selama ini dirinya memposisikan diri setara dengan awak media.

Hal ini dimaksud agar apa yang menjadi tujuan lembaga dapat sampai kepada masyarakat dengan baik. Bersosialisasi dengan banyak orang dan memahami setiap detail karakteristik pribadi disebutnya juga adalah kunci menjadi PR.

Senada diungkapkan Corporate Secretary PT Bukit Asam, Suherman. Pria yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana ekonomi ini memilih melakukan pendekatan dengan menggelar pertemuan rutin dan diskusi bersama awak media. Saat menjalankan perannya sebagai PR di perusahaan tambang batubara yang terletak di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Suherman menilai pengalaman merupakan guru terbaik.

“Saya terus belajar, meskipun dasar pendidikan saya bukan dari komunikasi namun saya mencintai apa yang menjadi pekerjaan saya sekarang,” imbuhnya.

Adapun dari bidang perhotelan hadir General Manager The Sunan Hotel Solo, Retno Wulandari. Alumnus Fakultas Hukum UNS Solo ini mengaku awalnya bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan dua pembicara lainnya, Retno juga menyebut menjadi seorang PR harus memiliki kepekaan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya