Kebanjiran, 800 Ha Sawah di Kudus Terancam Gagal Panen

Ilustrasi persawahan tergenang banjir. (Antara)
03 Februari 2019 14:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Tanaman padi seluas 800 hektare di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah tergenang air bah menyusul tingginya curah hujan di daerah setempat. Petani pemilik lahan yang kebanjiran tersebut terancam gagal panen pada musim tanam (MT) pertama tahun ini.

"Luas lahan tanaman padi yang tergenang banjir tersebut, merupakan hasil pendataan 29 Januari 2019," kata Pelaksana Tugas Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Arin Nikmah di Kudus, Jawa Tengah, Jumat (1/2/2019).

Ratusan hektare tanaman padi yang tergenang banjir tersebut, katanya, tersebar di lima kecamatan, yakni Mejobo, Jati, Kaliwungu, Jekulo, dan Undaan. Untuk Kecamatan Mejobo terdapat 222 ha lahan tanaman padi yang tersebar di tiga desa, yakni Temulus, Kirig, Payaman, Kesambi dan Jojo.  Sementara di Kecamatan Jati terdapat 206 ha lahan tanaman padi yang tergenang, tersebar di Desa Jati Wetan, Jati Kulon, Loram Wetan, Loram Kulon, Jetis Kapusan, Pasuruhan Kidul, dan Tanjung Karang. Di Kecamatan Kaliwungu yang tersebar di lima desa, terdapat 156 ha lahan yang tergenang banjir, kemudian di Kecamatan Jekulo yang tersebar di empat desa terdapat 168 ha sawah yang tergenang dan Kecamatan Undaan terdapat 48 ha yang tersebar di tiga desa.

Dari ratusan hektare tanaman padi yang tergenang, potensi mengalami puso sekitar 532 ha yang tersebar di lima kecamatan tersebut. Potensi puso terluas terdapat di Kecamatan Jati dengan luas 183 ha, disusul Kecamatan Mejobo seluas 153 ha, Kecamatan Jekulo seluas 88 ha, Kecamatan Kaliwungu seluas 67 ha, dan Kecamatan Undaan seluas 41 ha.

Ia mengatakan usia tanaman padi yang terendam tersebut, beravariasi antara 15 hari hingga 90 hari. Sementara ketinggian genangan banjir, katanya, juga bervariasi karena ada yang sampai 150 cm.

Terkait dengan ancaman puso, kata dia, sepanjang genangan tidak segera surut, maka tanaman padi petani terancam puso karena tanaman tersebut hanya bisa bertahan dalam jangka sepekan.

Supaan, salah seorang petani asal Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan mengakui, tanaman padinya di lahan seluas 5.000 m2 terendam banjir dan banyak yang roboh akibat tertiup angin kencang. "Beruntung, genangan banjir tidak tinggi sehingga bisa ditunggu hingga mencapai usia panen," ujarnya.

Karena terlalu banyak air, dia memastikan, harga jualnya juga akan turun karena kualitas gabahnya tentu menurun karena kandungan airnya terlalu tinggi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara