Ekonomi Jateng Tumbuh 5,32%, Menguat dari 2017

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah 5,32% selama 2018. (Bisnis/BPS Jawa Tengah)
07 Februari 2019 02:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi Jateng pada tahun 2019 lalu mencapai 5,32%. Angka itu menguat dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 5,26%.

Kepala BPS Jawa Tengah Sentot Bangun Widoyono mengatakan perekonomian Jateng berdasarkan besaran produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2018 mencapai Rp1.268.700,97 miliar dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp941.283,28 miliar.  "Ekonomi Jawa Tengah tahun 2018 tumbuh 5,32%, menguat dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 5,26%. Pertumbuhan tertinggi dicatat oleh Lapangan Usaha lnformasi dan Komunikasi sebesar 12,39%. Pada sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor sebesar 11,42%," kata Sentot, Rabu (6/2/2019). 

Dijelaskan, dari struktur ekonomi Jawa Tengah tahun 2018 sisi produksi masih tetap didominasi oleh Lapangan Usaha Industri Pengolahan, yaitu sebesar 34,50%, sedangkan dari sisi pengeluaran didominasi oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) yang mencapai sebesar 60,58%.  Dia menambahkan, sedangkan ekonomi Jawa Tengah Triwulan IV-2018 mengalami pertumbuhan sebesar 5,28%, dibandingkan dengan triwulan yang sama pada 2017 (y-on-y). 

Selain itu, ekspansi ekonomi tersebut didorong oleh semua Iapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Kesehatan yang tumbuh 11,49%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicatat oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit (PK-LNPRT) yang tumbuh sebesar 9,87%. 

"Ekonomi Jawa Tengah Triwulan IV-2018 mengalami kontraksi sebesar 2,11%, jika dibandingkan dengan Triwulan III-2018 (q-to-q). Kontraksi Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 25,07% menjadi faktor utama yg menekan ekonomi Triwulan IV-2018. Dari sisi pengeluaran, kontraksi ekonomi Jawa Tengah Triwulan IV dikarenakan laju pertumbuhan Komponen (Impor hingga mencapai 11,45%. Impor merupakan komponen pengurang dalam penyusunan PDRB," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis