Kisah Dalang Potehi Semarang, Berburu ke Pasar Loak Demi Perkaya Cerita

Thio Hauw Lie atau yang akrab disapa Herdian Candra Irawan menunjukan seni pertunjukan tradisional Tiongkok, wayang potehi, di rumahnya, Kota Semarang, Senin (4/2 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
08 Februari 2019 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Thio Hauw Lie tampak cekatan menjahit kain berwarna-warni di rumahnya. Maklum, kain itu akan harus segera jadi untuk digunakannya sebagai ekor barongsai.

Kendati sibuk, Hauw Lie tetap menunjukkan keramahan saat menyambut kedatangan Semarangpos.com di rumahnya, di Kampung Pesantren No. 326, Kelurahan Purwodinata, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Senin (4/2/2019) sore.

“Silakan duduk. Saya sambil menjahit kain barongsai ya. Soalnya mau buat main nanti malam,” ujar pria berusia 54 tahun itu membuka pembicaraan.

Menjelang perayaan Tahun Baru China 2570 atau Imlek 2019, Hauw Lie memang disibukkan berbagai aktivitas. Tak hanya bermain barongsai, pria berusia 54 tahun itu juga kerap diundang untuk tampil sebagai dalang potehi.

Hampir sama dengan pertunjukkan wayang lainnya, potehi juga digerakan seorang dalang. Bedanya, wayang potehi berukuran kecil dan terbuat dari kain. Seni pertunjukkan peninggalan Dinasti Jin ini pun biasanya dimainkan dengan menggunakan bahasa Mandarin Hokian.

Hauw Lie merupakan satu-satunya dalang wayang potehi yang masih tersisa di Semarang. Ia mewarisi kemampuan tersebut dari mendiang ayahnya, Thio Tiong Gie atau yang akrab disapa Teguh Candra Irawan, yang dikenal sebagai maestro dalang potehi.

Selain menjadi dalang potehi, Hauw Lie juga kerap tampil dalam pertunjukkan barongsai. Bahkan, bapak dua anak ini lebih mengandalkan pertunjukan barongsai untuk menafkahi keluarga.

"Show barongsai tahun ini lebih ramai. Kalau menggeluti potehi sejak papa renta. Saya awalnya bantu bongkar pasang panggungnya. Kadang duduk di samping panggung sambil lihat papa main wayang. Dari situ saya belajar dialog Mandarin, belajar cengkoknya juga,” ujar pria yang memiliki nama lain Herdian Candra Irawan itu.

Hauw Lie menambahkan pasca-wafatnya sang ayah pada 2014 silam, ia mulai pertunjukkan wayang potehi. Ia tak mau seni yang diwariskan sang ayah hilang tergerus zaman.

“Dari empat anak laki-laki, saya yang akhirnya diminta meneruskan menjadi dalang potehi. Karena, dianggap eman-eman sudah ada alat, tapi enggak diteruskan,” imbuhnya.

Namun semua itu tak pernah berjalan  mulus. Ia sempat berhenti total setahun. Keberaniannya untuk meneruskan pertunjukan potehi baru muncul 2016.

"Mainnya otodidak. Main bonekanya mudah. Tapi sulit pas membawakan ceritanya. Terutama saya harus belajar mempelajari suara orang muda, tua sampai cewek. Itu yang susah,” imbuh Hauw Lie.

Agar pertunjukan potehinya tetap sedap dipandang mata, Hauw Lie mengaku sering memperkaya pengetahuan melalui buku cerita silat dan dongeng khas China dari .

Bahkan, waktunya kerap dihabiskan dengan berburu buku bekas di pedagang loak belakang Stadion Diponegoro, Semarang. Setidaknya jerih payahnya membuahkan hasil tatkala ia berhasil membawakan cerita Siluman Ular Putih, Jenderal Yang maupun Poei Sien Giok.

"Sekarang saya lagi mencoba menerjemahkan cerita dari buku berjudul Sien Guan Tong. Kisahnya tentang Dinasti Han dan alurnya sangat menarik untuk dimainkan," jelasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya