Musim Pemilu, Makam Pendiri Semarang Ramai Didatangi Caleg

Wisatawan berkunjung ke makam pendiri Semarang, Ki Ageng Pandanaran, di Jl. Mugas Dalam II, Mugasari, Kota Semarang, Selasa (12/2 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
13 Februari 2019 12:45 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Sosok Ki Ageng Pandanaran sangat dihormati warga Kota Semarang. Selain dianggap sebagai wali, tokoh yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Pandanaran itu juga diyakini merupakan pendiri Kota Semarang.

Tak heran jika banyak warga Semarang yang berziarah ke makam Ki Ageng Pandanaran di Jl. Mugas Dalam II, Mugasari, Kota Semarang. Selain untuk menghormati jasa Ki Ageng Pandanaran, warga juga banyak yang berziarah ke makam keturunan raja Kesultanan Demak itu untuk ngalap berkah atau mencari berkah.

Juru kunci makam, Suwarno, mengaku tak hanya warga biasa yang berziarah ke makam Ki Ageng Pandanaran. Para pejabat, politikus, hingga calon anggota legislatif (caleg) pun kerap datang ke makam Ki Ageng Pandanaran untuk mencari berkah.

“Apalagi masa-masa pemilu seperti saat ini. Banyak caleg yang datang ke sini. Kalau sekarang belum terlalu banyak sih. Nanti sepekan atau dua pekan menjelang coblosan, pasti yang datang banyak,” ujar Suwarno saat dijumpai Semarangpos.com di kompleks permakaman, Selasa (12/2/2019).

Suwarno menyebutkan para caleg biasanya datang membawa beraneka kembang. Mereka lantas bermunajat di depan makam Ki Ageng Pandanaran sambil membaca secarik kertas berisi doa.

“Doanya macam-macam, tergantung tujuan dan keyakinan. Enggak cuma yang muslim, tapi yang Tionghoa juga ada, dengan membakar yongsua [dupa],” imbuh pria berusia 50 tahun itu.

Kompleks permakamanan Ki Ageng Pandanaran berada di perbukitan Mugasari. Makam tersebut berada di dalam sebuah bangunan di samping masjid.

Juru kunci makam Ki Ageng Pandanaran, Suwarno, menunjukkan mimbar peninggalan Ki Ageng Pandanaran di kompleks permakaman, Selasa (12/2/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Di dalam bangunan itu, makam Ki Ageng Pandanaran berada di ruang utama. Di samping makam Bupati pertama Semarang itu terdapat dua makam lain, milik Nyai Ageng Sejanila alias Endang Sejanila alias Siti Fatimah yang merupakan istri Ki Ageng Pandanaran dan makam Pangeran Madiyo Pandan alias Maulana Ibnu Abdul Salam.

Ketiga makam itu menghadap ke arah kiblat dan tertutup kain berwarna putih. Di sudut ruang makam itu, ada tiga tombak yang diyakini merupakan pusaka peninggalan Ki Ageng Pandanaran.

Sementara itu di sisi luar ruangan utama masih ada puluhan makam lain yang konon merupakan petilasan para pengikut Ki Ageng Pandanaran. Selain makam, di dalam bangunan itu juga terdapat mimbar dan gentong atau tempat air peninggalan Ki Ageng Pandanaran.

“Biasanya ramai itu saat malam Jumat Kliwon. Peziarah yang datang membeludak, bahkan sampai antre di luar. Mereka juga berdoa dari malam sampai dini hari,” imbuh Suwarno.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya