Pidato Kebangsaan Prabowo di Semarang Tebar Optimisme

Capres nomor urut 02 dalam Pilpres 2019, Prabowo Subianto, memberikan paparan di Po Hotel Semarang, Jawa Tengah. Jumat (15/2 - 2019). (Bisnis/Alif Nazzala Risqi)
16 Februari 2019 06:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Calon Presiden nomor urut 02 dalam Pemilihan Presiden dan Wakil presiden (PIlpres) 2019, Prabowo Subianto, menyampaikan Pidato Kebangsaan yang digelar Universitas Kebangsaan Republik Indonesia di Po Hotel Semarang, Jawa Tengah. Jumat (15/2/2019). Dalam pidato bertema Wujudkan Swasembada Energi, Pangan, dan Air itu,Prabowo menyalurkan energi optimisme ke pendukungnya.

"Banyak negara sudah meramalkan akan ada perang untuk memperebutkan air. Negara harus bisa menghasilkan energi sendiri, tidak tergantung pada negara lain," katanya saat memberikan pidato kebangsaan.

Prabowo meyakini, Indonesia akan bisa menghasilkan energi, pangan, dan air yang melimpah. "Masalah Indonesia ini masalahnya minta ampun, utangnya banyak. Namun pasti ada jalan, kita punya tekat untuk keluar dari itu dan menguasai kekayaan alam kita," ujarnya.

Dia mengaku sebagai mantan prajurit Republik Indonesia, yang selalu berjuang dan mempelajari permasalahan yang ada. "Serdadu atau tentara mengerti arti penting ekonomi, saya pelajari sejarah perang, hampir semua perang memperebutkan ekonomi, hampir semua perang memperebutkan pangan, energi, dan sumber air," jelasnya.

Jika diberikan mandat sebagai Presiden Republik Indonesia, Prabowo mengaku optimistis akan bisa memilih putra-putri terbaik bangsa untuk membangun Indonesia. "Kalau kami pantas, kami minta mandat dari rakyat indonesia. Jika dimandatkan ke kami, akan kami maksimalkan," katanya.

Pada akhir pidatonya, Prabowo Subianto ingin membawa semangat Bung Karno di pemerintahannya nanti. "Indonesaia mampu, Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri. Negara tidak boleh ada yang kekurangan makanan, negara tidak boleh ada yang kekurangan gizi," katanya.

Sementara itu, sejumlah tokoh hadir sebagai panelis dalam Pidato Kebangsaan Prabowo Subianto. Mereka adalah para ahli dalam tiga bidang yang menjadi bahasan yakni energi, pangan dan air.

Mereka duduk secara melingkar teater dengan dua baris yang terbagi di kanan dan kiri panggung besar. Total ada 31 panelis ditambah enam panelis perwakilan dari partai Koalisi Adil Makmur.

Panelis dari bidang ekonomi di antaranya ada mantan Gubernur Bank Indonesia Prof Burhanudin Abdullah, Direktur IKS UKRI Sugiono, serta beberapa doktoral pakar ekonomi seperti Drajad Wibowo, Ichsanuddin Noorsy, Alex Yahya, Harriyadin, Andika, dan Dirgayuza Setiawan.

Masing-masing panelis memberikan pointer dan indikator bahasan sebagai materi yang akan nantinya ditanggapi Prabowo Subianto. Paparan bidang ekonomi dibuka oleh Direktur IKS UKRI Sugiono yang membahas telah terjadi ketimpangan di masyarakat. Dimana malah banyak penduduk yang sudah untuk memenuhi kebutuhan dasar, yakni makan.

"Rakyat harus makan, jika tidak makan akan ada kekacauan. Tidak bisa urusan pangan bergantung pada negara lain," kata Sugiono.

Selain pakar ekonomi ada juga jajaran pakar bidang infrastruktur di antaranya mantan anggota staf khusus Kementerian PU Suhendra Ratu, pakar perumahan Marco Kusuma, dan para anggota legislatif Komisi V DPR, Putra Jaya Husein dan Bambang Haryo Soekartono.

"Terjadi kesalahan program infrastruktur dalam sistem kerja, kerja, kerja. Banyak proyek dibangun tapi sepi karena tidak diperlukan sepeti LRT Palembang, Bandara Kertajati, Kereta Bandara Soekarno Hatta, dan lainnya. Yang memakan APBN puluhan triliun secara sia-sia," kata mantan staf khusus Kementerian PU Suhendra Ratu.

Tak kalah mentereng, ada pada jajaran panelis energi dan pangan, tampil 12 panelis. Mereka adalah mantan Menteri ESDM Sudirman Said, Said Didu mantan staf khusus menteri ESDM, pakar pangan Prof. Laode Kamaludin, pakar sumber daya alam Raul Purnama, mantan Dirjen Kementerian Pertanian Endang Thohari, mantan Menteri Pertanahan Ferry Mursyidan Baldan, dan lainnya.

"Swasembada pangan belum terwujud, semua naik baik beras, gula, yang naik tiga kali lipat dari harga dunia. Jika naik harusnya petani senang tapi malah hancur. Petani kentang di Jambi, petani cabai di Demak malah buang hasil panen," kata Aria Witoelar.

Panelis sumber daya alam dan lingkungan hidup duduk sebanyak tujuh panelis yang terdiri atas Direktur Institute of Essential Service Reform Fabby Tumiwa, Direktur LP3ES Suhardi Suryadi, Aria Witoelar CEO Arya Watala Capital, dan pakar konservasi hutan Achmad Adhitya, ahli hukum lingkungan Irvan Pulungan. "47 proyek reklamasi potensi langgar AMDAL, Reklamasi Jakarta di atas blank zone biogenic gas, bisa meledak; Reklamasi Bali, Semarang, Manado bermasalah," kata Ivan Puluhan, membuka indikator panelis bidang SDA dan lingkungan.

Dari tiga indikator materi panelis tersebut selanjutnya Prabowo Subianto akan mananggapi dengan berpidato kepada para audiens sekitar satu jam.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis