Di Temanggung, Mbak Tutut Dengar Keluhan Petani Tembakau

Tutut Soeharto berdialog dengan petani tembakau dalam silaturahmi ekodaya yang diselenggarakan Partai Berkarya di lereng Gunung Sumbing di Desa Kemloko, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. (Antara/Heru Suyitno)
17 Februari 2019 00:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, TEMANGGUNG — Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, Sabtu (16/2/2019), berkunjung ke Desa Kemloko, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kepada puteri mendiang mantan presiden H.M. Soeharto itu, petani mengeluhkan merosotnya harga tembakau dalam beberapa tahun terakhir ini.

Keluhan petani tersebut disampaikan pada silaturahmi ekodaya yang diselenggarakan Partai Berkarya di lereng Gunung Sumbing di Desa Kemloko, Kecamatan Tembarak, Temanggung, Jateng. Petani warga Kemloko, Rozak menuturkan harga tembakau akhir-akhir ini terus merosot, meskipun kondisinya bagus tetapi harganya murah.

"Pada tahun 2016 memang kondisi cuaca tidak mendukung sehingga hasil tembakau tidak maksimal, namun pada tahun 2018 kondisi cuaca bagus dan hasil panen tembakau juga bagus tetapi harganya rendah," katanya.

Ia menuturkan pihaknya tidak tahu mengapa pabrikan membeli tembakau dengan harga rendah. Menanggapi keluhan tersebut, Tutut Soeharto menyampaikan nanti akan meneliti bersama para ahli dan mencari solusi kenapa kenapa harga tembakau Temanggung jatuh.

"Sejak dulu tembakau Temanggung sudah terkenal di seluruh dunia, kalau sekarang dengar harganya turun saya sedih. Saya tidak janji apa-apa tetapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu masyarakat di sini," katanya.

Ketua Penyelenggara silaturahmi ekodaya yang juga calon legislatif dari Partai Berkarya DPR RI tahun 2019-2024 Dapil Jateng 6 Nilasari Kusumo Anggraeni menuturkan Partai Berkarya datang untuk membawa program bagi para petani. Ia mengatakan ingin mendekatkan diri pada masyarakat dengan program ekonomi kerakyatan bersama Toko Goro milik Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra.

Toko Goro kini sudah dibuka di Wonosobo, mudah-mudahan ke depan di buka di Temanggung sehingga bisa bekerja sama dengan petani maupun UKM di sini. "Kami berharap masuknya ekonomi kerakyatan melalui Goro, kita bisa mengontrol, memberi bantuan para petani yang selama ini sudah kami lakukan melalui UKM Goro di beberapa daerah," katanya.

Ia menuturkan Goro mengambil produk langsung dari petani yang harganya bisa lebih bagus dan dijual dengan selisih harga tidak terlalu jauh, seahingga saling menguntungkan. "Waktu saya ke Wonosobo masyarakat bilang belanja di toko itu murah," katanya.

Menyinggung keluhan petani tentang merosotnya harga tembakau, dia mengatakan mudah-mudahan nanti bisa menelaah lebih dalam apa saja masalahnya. "Saya sudah blusukan ke beberapa daerah, banyak keluhan seperti itu karena dimakan oleh tengkulak dan petani ditekan harganya. Hal-hal seperti inilah fungsinya mata rantai yang dikelola Goro karena fungsinya tidak hanya mengambil barang tetapi kita juga membina petani dan UKM," katanya. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara