Tol Trans Jawa Diklaim Tekan Pelanggaran Batas Muatan

Kendaraan melintasi ruas jalan tol seusai peresmian pengoperasian tiga ruas jalan tol Trans Jawa di Jembatan Kalikuto, Kendal, Jawa Tengah. (Bisnis/Nurul Hidayat)
20 Februari 2019 04:50 WIB Yudi Supriyanto Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Aptrindo Jateng mengakui angkutan barang truk dengan dimensi dan muatan berlebih dapat berkurang ketika para pengusaha truk menggunakan jalan tol Trans Jawa. Jalan bebas hambatan itu diklaim membuat utilisasi truk akan membaik.

Pengakuan banyaknya pelanggaran batas muatan  sebelum adanya jalan tol Trans Jawa itu dikemukakan Wakil Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah Bambang Widjanarko. Menurutnya jumlah truk dengan muatan dan dimensi berlebih yang dapat berkurang akan sejalan dengan jumlah truk yang menggunakan tol Trans Jawa.

“Truk ODOL juga akan berkurang dengan sendirinya, seiring semakin membaiknya utilisasi truk,” kata Bambang kepada Bisnis, Selasa (19/2/2019).

Dia menjelaskan para pengusaha angkutan barang truk memiliki rumus pendapatan dalam berusaha, yakni ongkos dikalikan dengan ritase atau jumlah perjalanan. Oleh karena itu, pengusaha truk masih bisa menjalankan usahanya ketika ongkos atau biaya dari konsumen baik meskipun ritase buruk atau biaya dari konsumen buruk tapi memiliki ritase yang bagus.

“Jika ongkos buruk, ritase buruk, maka overdimension & overload menjadi pilihan terbaik di antara ketidakberdayaan. Kalau ongkos bagus, ritase bagus, ya usaha truknya akan cepat membesar dan jaya raya,” katanya.

Dia menambahkan, penggunaan jalan tol Trans Jawa akan membuat para pengusaha truk lebih irit belanja suku cadang dan ban selain memiliki waktu tempuh yang lebih cepat dibandingkan menggunakan jalan arteri. Menurutnya, ban akan lebih awet ketika menggunakan jalan tol Trans Jawa mengingat musuh utama dari ban adalah benturan lubang di jalan.

Bukan hanya itu, katanya, ban juga akan lebih awet ketika jarang dipaksa untuk berulang kali melakukan stop and go. “Jika truk meluncur konstan di permukaan jalan halus dan jarang melakukan stop and go, selain lebih mengirit pemakaian bahan bakan, mur & baut pun akan lebih kencang dan tidak cepat kendur, sehingga otomatis baik rangka maupun bodi truk akan menjadi lebih awet,” katanya.

Dia menambahkan semua komponen karet, bantalan, bahkan sampai ke lampu-lampu pun akan jauh lebih awet karena lebih sedikit tergoncang dibandingkan dengan melewati jalan arteri. Oleh karena itu, dia menilai, anggapan tarif jalan tol Trans Jawa yang terlalu mahal lama-lama bisa terkikis dengan sendirinya jika pengusaha truk benar-benar mau berhitung secara detail segala aspek untung dan ruginya ketika menggunakan jalan tol dibandingkan jalan arteri.

Terkait kekurangan seperti belum ada montir, bengkel dan toko suku cadang & ban di tol Trans jawa, dia mengusulkan pengelola jalan tol proaktif menawarkan berbagai kerja sama saling menguntungkan dengan agen pemegang merek (APM) atau penjual ban agar tertarik membuka lapak. Dia menambahkan, kehadiran jalan tol Trans Jawa yang dibangun pemerintah tepat pada waktunya karena saat ini jalan arteri yang ada sudah tidak cukup lagi untuk mewadahi pertumbuhan jumlah kendaraan setiap tahun. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis