Di Undip Semarang, Kepala BNPT Bongkar Ciri Penganut Radikalisme di Kampus

Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama, bersama Kepala BNPT, Komjen Pol. Suhardi Alius, berpose bersama saat acara pembekalan bahaya radikalisme di Gedung Prof. Soedharto, Kampus Undip, Semarang, Rabu (20/2 - 2019). (Semarangpos.com/Humas Undip)
22 Februari 2019 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Sebanyak 69 mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang tergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan mendapat pembekalan tentang bahaya radikalisme dan terorisme. Tak tanggung-tanggung, pembekalan kepada mahasiswa Undip itu diberikan langsung Kepala Badan Nasional Pemberantasan Teroris (BNPT), Komjen Pol. Suhardi Alius.

Pembekalan diberikan di Gedung Prof. Soedharto, Kampus Undip, Tembalang, Semarang, Rabu (20//2/2019). Tak hanya para mahasiswa, Rektor Undip, Prof. Dr. Yos Johan Utama, juga turut hadir dalam acara tersebut.

Rektor mengatakan radikalisme yang telah menjamur di Indonesia lebih dikarenakan masalah integritas dari masyarakat yang sangat kurang. Ia berharap mahasiswanya mampu berhati-hati dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya memecah belah masyarakat, salah satunya melalui pembentukan integritas dan jiwa ksatria.

“Hal yang berkaitan dengan ilmu adalah nomor kesekian, yang terpenting adalah jiwa integritas dan jiwa ksatria yang dibangun didalam diri mahasiswa. Itu yang paling penting,” kata Yos dalam keterangan resmi.

Sementara itu, Kepala BNPT, Komjen Pol. Suhardi Alius, mengingatkan akan sejarah pembangunan dan pentingnya ideologi sebagai upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan negara.

“Negara kita ini dibangun dengan ideologi, dan para pahlawan sulit sekali memperjuangkan kemerdekaan. Sekarang tugas kita untuk mempertahankannya, tugas kita semua sebagai penerus bangsa,” ujar Suhardi.

Menurut Kepala BNPT, dengan memegang teguh nasionalisme, tidak melupakan sejarah serta memupuk nilai dan kearifan lokal dapat membekali generasi muda dalam menghadapi globalisasi dan kemajuan teknologi. Hal ini penting dipahami ketika globalisasi dan kemajuan teknologi tidak hanya meningkatkan daya saing profesi, melainkan hal-hal negative, seperti penyebaran paham radikalisme dan terorisme, terutama di dunia maya atau Internet.

“Kita bisa betah sekali menghabiskan waktu di depan gadget dan menggunakan Internet. Awas, kelompok radikal dan teroris menggunakan Internet sebagai medianya. Kalau pegangan kalian terhadap kearifan lokal, sejarah dan nasionalisme kuat, kalian memiliki daya tahan,” ujar mantan Sestamma Lemhannas itu.

Lebih lanjut, Kepala BNPT juga menjelaskan ciri dan identifikasi radikalisme yang dapat dirasakan di  lingkungan sosial, termasuk lingkungan akademik.

“Radikalisme negatif itu meliputi intoleransi, anti-NKRI, anti Pancasila dan pemahaman nilai-nilai takfiri. Kalau ada pegawai, pengajar yang mengancam kalian dengan ideologi menyimpang tertentu, ada teman yang perilakunya berubah drastis, jangan permisif, salah ya ditegur, sebelum jadi kultur,” ujar Suhardi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya