UKSW Salatiga Wisuda 548 Mahasiswa

Rektor UKSW Salatiga, Neil Samuel Rupidara, mewisuda salah satu mahasiswa di Balairung UKSW Salatiga, Sabtu (18/2 - 2019). (Semarangpos.com/Humas UKSW)
24 Februari 2019 14:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga mewisuda 548 mahasiswa. Acara wisuda periode III Tahun Akademik (TA) 2018/2019 itu digelar di Balairung UKSW, Salatiga, Sabtu (23/2/2019).

Rektor UKSW, Neil Samuel Rupidara, meminta para lulusan bisa lebih memberikan kontribusi kepada masyarakat dan tidak melupakan almameter. Neil menyebutkan, kampus tak ubahnya berperan sebagai ibu yang menyusui dan membesarkan anaknya. Atas itu, dia berharap seluruh anak didiknya yang telah lulus dapat terus tumbuh berkembang serta tidak lupa meningkatkan kualitas diri dengan belajar terus menerus.

“Selain itu UKSW juga memiliki karakteristik institusional antara lain oikumenis, nasionalis, dan mengemban nilai-nilai universal. Sebagai penerapan nilai universal, UKSW berupaya juga untuk menghasilkan lulusan yang berkesadaran dan bertanggung jawab merawat kehidupan dalam bangsa ini. Tanggung jawab ini tidak mudah tetapi harus kita upayakan terus-menerus,” kata Neil dalam keterangan resmi yang diterima Semarangpos.com, Minggu (24/2/2019).

Menurut Neil, selain tugas utama mencetak generasi terdidik, universitas dalam hal ini UKSW juga turut bertanggungjawab dalam membentuk sikap dan watak warga negara yang baik. Salah satu contoh adalah dalam menyikapi masalah lingkungan, termasuk sampah plastik yang menyebabkan berbagai bencana.

Di antara 548 lulusan yang diwisuda itu, terdapat sejumlah lulusan yang memiliki topik penelitian skripsi mengenai kajian lokal untuk masyarakat. Salah satunya adalah Rehuel Christian lulusan Program Studi Gizi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK). Melalui hasil penelitiannya berjudul “Daun Kelor Sebagai Sumber Isoflavon Alternatif bagi Perempuan Post Menopause”, Rehuel Christian memanfaatkan daun kelor sebagai bahan pangan lokal untuk mengatasi penyakit osteoporosis pada perempuan post menopause.

Dikatakannya, daun kelor atau bernama ilmiah Moringa oleifera L mengandung isoflavon dan kalsium tinggi yang dapat membantu mengatasi penyakit osteoporosis pada perempuan post menopause. Menurutnya selama ini terapi hormon dianggap memiliki banyak efek samping, diet tinggi isoflavon menjadi alternatif untuk membantu perempuan post menopause.

“Penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif bahan pangan lokal khusunya bagi perempuan post menopause. Penelitian yang saya lakukan di Panti Wreda Mandiri Salib Putih Salatiga menunjukkan tingginya gejala penyakit osteoporosis. Saya berharap penelitian ini memberi dampak bagi masyarakat luas misalnya panti werdha dapat menjadi pihak yang membantu manajemen nutrisi perempuan post menopause dengan cara menjadikan daun kelor sebagai bagian dari susunan menu harian,” tegasnya.

Selain Rehuel dalam wisuda kali ini juga turut diikuti sejumlah lulusan dengan Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi. Untuk Strata (S)1 diraih oleh Maria Regita Dyah Puspita, S.Kom (4.00) dari Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informasi. Sedangkan peraih IPK tertinggi S2 adalah Mernon Yerlinda Carlista Mage, M.Si (3.96) dan Charla Wattimury, M.Si (3.96) keduanya dari program Studi Magister Sains Psikologi Fakultas Psikologi.  Adapun S3, IPK tertinggi diraih Dr. R.A. Marlien (3.94) dari Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB).