Aptrindo Ngapakers Bantu Warga Cegah Wabah Demam Berdarah

Para pengusaha truk yang tergabung dalam Aptrindo Ngapakers melakukan fogging di rumah warga di Purwokerto, Banyumas, Senin (25/2 - 2019). (Semarangpos.com/Aptrindo Jateng)
26 Februari 2019 04:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Miris dengan wabah penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang kian merebak di masyarakat, sejumlah pengusaha truk di wilayah eks Keresidenan Banyumas, yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Plat R Ngapakers menggelar bakti sosial berupa fogging atau pemberantasan nyamuk Aedes aegypti dengan cara pengasapan.

Kegiatan bakti sosial itu digelar di sejumlah warga di wilayah Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, maupun Cilacap. Salah satunya di Kampung Brobahan, Kelurahan Kranji, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Senin (25/2/2019) pagi.

Wakil Ketua DPD Aptrindo Jawa Tengah (Jateng), Bambang Widjanarko, mengatakan pemberantasan nyamuk Aedes aegypti melalu fogging itu dilakukan atas dasar permintaan masyarakat secara langsung.

"Saat ini sudah ada 3 permohonan tertulis dan beberapa lagi secara lisan kepada kami. Permintaan itu baik dari kompleks perumahan, sekolah maupun lingkungan permukiman. Mereka meminta kami melakukan penyemprotan terhadap nyamuk demam berdarah,” ujar Bambang dalam keterangan tertulis kepada Semarangpos.com, Senin (25/2/2019).

Bambang menambahkan setiap musim penghujan, nyamuk demam berdarah memang menjadi momok yang menakutkan bagi warga masyarakat. Kendati demikian, banyak warga yang mengaku kesulitan mendapat bantuan dari pemerintah dalam hal memberantas nyamuk yang membawa wabah mematikan tersebut.

“Kita tidak mungkin mengandalkan pemerintah saja untuk mengatasi semua permasalahan. Maka sebagai asosiasi, kami juga berkewajiban ikut membantu. Semoga langkah Aptrindo bisa diikuti asosiasi lain yang ada di Indonesia,” ujar Bambang.

Bambang mengatakan kegiatan pengasapan atau fooging yang digelar Aptrindo itu akan dilakukan secara bertahap. Pihaknya mengaku tidak bisa melaksanakan kegiatan itu secara rutin terus menerus mengingat para pelaksana fooging merupakan sopir dan kernet truk yang sedang menjalani masa rehat atau tidak bertugas.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya