Bisnis Obat Herbal Jawa Tengah Tumbuh 20%

Ilustrasi produk jamu atau obat herbal. (Bisnis/Dwi Prasetya)
28 Februari 2019 02:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Bisnis jamu atau obat herbal mengalami pertumbuhan 20% pada tahun 2018 lalu. Trend tersebut diyakini dipengaruhi meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi jamu atau obat herbal ketimbang obat kimiawi.

Junior Branch Manager PT Jamu  Air Mancur, Widi Kusnantoyo, mengatakan pertumbuhan bisnis jamu atau obat herbal itu dipengaruhi persepsi bahwa mengonsumsi jamu lebih aman dibandingkan mengonsumsi obat kimiawi. Selain itu, sambungnya, mengomsumsi jamu juga telah menjadi gaya hidup masyarakat urban.

"Trend masyarakat saat ini lebih suka yang alami atau herbal, apalagi jamu merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang. Hal ini yang membuat bisnis jamu [atau] herbal kami mengalami pertumbuhan 20%,” katanya, Selasa (26/2/2019).

Pertumbuhan bisnis dalam pasar produk industri herbal, lanjut Widi, juga ditunjang dengan banyaknya bahan baku yang ada di Indonesia—khususnya Jawa Tengah. Misalnya saja, PT Jamu Air Mancur yang mendapatkan bahan baku dari petani atau mitra yang berasal dari wilayah Jawa Tengah. 

"Industri herbal ini, juga mengembangkan perekonomian dari hulu dan hilir,” tuturnya.

Produk yang menjadi andalan adalah jamu jenis serbuk untuk wanita yang baru saja bersalin dan jamu cair masuk angin. Selain itu, pihaknya mengaku melakukan inovasi untuk memperluas pangsa pasar anak muda atau generasi milenial dengan mengeluarkan produk jamu ekstraksi. 

"Kontribusi penjualan terbesar masih di Jawa Tengah untuk jamu serbuk dan jamu cair, bebeberapa produk kami misalnya jamu bersalin lengkap malah menjadi market leader di luar Jawa,” ucapnya.

Widi mengungkapkan jika pada tahun ini ditargetkan ada kenaikan dari segi penjualan sebesar 20% dibandingkan tahun 2018. Target tersebut dianggap realistis meski harus bersaing dengan industri farmasi. Terlebih lagi, tegasnya, indutusri jamu punya pangsa pasar tersendiri.

"Kami yakin bisa bersaing dengan kompetitor ataupun produk farmasi, apalagi saat ini habit masyarakat lebih mencari produk yang minim efek samping dengan produk herbal,” tuturnya.

Sementara itu, Brand Manager PT. Jamu Air Mancur, Aries Ikawati Arifah, mengatakan jika kebutuhan industri obat herbal di Indonesia diperkirakan akan meningkat berlipat dengan permintaan pangan fungsional. Salah satunya terlihat dari trend mengonsumsi obat herbal di masyarakat.

Dari data yang dimiliki Kementrian Perindustrian juga menyatakan omzet industri obat herbal nasional di 2011 telah mencapai Rp11 triliun, dan meningkat hingga Rp20 triliun pada 2015. "Trend kembali ke alam juga gencar disuarakan dunia internasional sehingga permintaan terhadap produk herbal semakin meningkat di negara maju maupun berkembang,”ucapnya.

Dia menjelaskan produk dari PT. Jamu Air Mancur memiliki standar internasional yang diakui oleh dunia, yaitu ISO 9001: 2015, mengenai sistem manajemen mutu yang memastikan pedoman operasional terbaik untuk menghasilkan produk berkualitas sehingga bisa diterima oleh masyarakat Indonesia dan dunia.

"Pangsa pasar internasional juga terbuka lebar untuk produk kami,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis