Jateng Targetkan Bebas BABS 2021

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, saat menghadiri acara peresmian bantuan jambanisasi di Kabupaten Wonosobo, Minggu (3/3 - 2019). (Semarangpos.com/Humas Pemprov Jateng)
04 Maret 2019 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, menargetkan wilayahnya bebas open defecation free (ODF) atau buang air besar sembarangan (BABS) pada 2021. Hal itu disampaikan Ganjar dalam acara peresmian bantuan jambanisasi di Kabupaten Wonosobo, Minggu (3/3/2019).

Menurut Ganjar gerakan ODF atau BABS sangat penting karena menjadi salah satu tolak ukur pengurangan angka kemiskinan. "Gerakan 100% ODF ini memang kami kebut sebagai langkah menekan angka kemiskinan dari subsektor yang terkecil, yakni persoalan sanitasi. Kalau masyarakat tidak buang air besar sembarangan, maka mereka akan menjadi sehat dan tentunya lebih sejahtera," kata Ganjar.

Ganjar menerangkan, sudah banyak penelitian yang menerangkan akibat perilaku buang air besar sembarangan menyebabkan masyarakat rentan diserang penyakit. Sejumlah penyakit berbahaya cukup banyak yang disebabkan virus yang bersumber dari sanitasi tidak sehat.

"Ada tipes, kolera, disentri, diare dan banyak penyakit lainnya. Bahkan ada penelitian bahwa penyebab orang di Indonesia masuk rumah sakit yang terbesar adalah dari virus akibat sanitasi. Kalau dikapitalisasi, kerugian negara akibat penyakit dari sanitasi buruk ini bisa mencapai triliunan rupiah," terangnya.

Saat ini lanjut Ganjar, di Jateng masih ada beberapa kabupaten dan kota yang belum 100% ODF. Untuk itu, pihaknya akan terus mendorong dengan menggandeng berbagai instansi terkait baik BUMN maupun swasta untuk gotong royong menyelesaikan permasalahan tersebut.

"Sekarang adalah momentum yang baik, kita semua gotong royong untuk menyelesaikan persoalan ini. Kalau dulu target 100% ODF belum tercapai, maka saya optimistis pada 2021 bisa,” imbuhnya.

Tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur sanitasi sehat, proses sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat lanjut Ganjar juga tidak kalah penting. Menurutnya, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang pola pikirnya belum menyadari pentingnya sanitasi sehat.

"Ada lho masyarakat yang sebenarnya mampu membuat jamban, tapi lebih senang buang air besar di sungai. Ini kan soal perilaku dan pola pikir, jadi nanti sosialisasi akan kami gencarkan dengan menggandeng masyarakat, bisa PKK, Pramuka, LSM dan sebagainya," tutupnya.

Ketua Yayasan Wahana Bakti Sejahtera, Budi Laksono menerangkan, meskipun Indonesia sudah merdeka sejak lama, namun sampai saat ini persoalan sanitasi bersih masih terabaikan. Tercatat, sebanyak 22 juta lebih masyarakat Indonesia masih belum memiliki akses sanitasi sehat.

"Padahal, ini sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat. Selama ini, penyakit yang diakibatkan oleh perilaku buang air besar sembarangan menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia," terangnya.

Budi menjelaskan, saat satu orang buang air besar sembarangan, maka ada 3 miliar bakteri dan virus yang tersebar. Virus-virus itulah yang menyebabkan berbagai penyakit seperti polio, disentri, tipes, diare dan sebagainya.

"Tercatat ada 150.000 jiwa melayang akibat penyakit-penyakit ini selama setahun di Indonesia,” tegas Budi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya