Harga Gabah di Kudus Turun di Musim Panen

Memanen padi dengan mesin pemanen di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
04 Maret 2019 02:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Harga jual gabah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah turun menyusul banyaknya stok gabah di pasaran seiring musim panen padi di sejumlah daerah di Tanah Air.

Jomo, salah seorang petani di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus mengungkapkan harga gabah pekan ini hanya Rp480.000/kuintal. Harga itu menyusut daripada sebelumnya yang bisa mencapai Rp510.000/kuintal.

Penurunan harga jual gabah tersebut, kata dia, terjadi menyusul mulai melimpahnya stok gabah di pasaran. Hampir semua daerah, seperti Blora, Purwodadi, Grobogan, Bojonegoro dan Tuban mulai memasuki musim panen sehingga mengakibatkan stok gabah melimpah dan berdampak penurunan harga jual di pasaran.

Meskipun ada penurunan harga jual, dia mengaku masih mendapatkan keuntungan, meskipun tidak sebanyak sebelumnya. Ia memprediksi harga jual gabah akan kembali turun, seiring masih banyak lahan tanaman padi yang belum dipanen.

"Beruntung bisa panen lebih awal, sehingga masih bisa mendapatkan keuntungan. Jika harga jual turun hingga Rp400.000/kuintal, maka jelas petani rugi," ujarnya di Kudus, Jawa Tengah, Jumat (1/3/2019).

Tingkat produktivitas pada musim panen pertama ini, katanya, sebesar 7,5 ton per hektarenya, meskipun ada petani lain yang bisa mencapai 8 ton.

Wawan, petani asal Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan, Kudus, Jateng juga mengakui harga jual gabah menurun. Di pasaran, gabah hanya laku Rp480.000/kuintal hingga Rp490.000/kuintal.

Harga ketan justru sangat terjual dengan harga murah, hanya laku Rp450.000/kuintal. Gabah hasil panennya, kata Wawan, dijual di lokal Kudus karena sudah memiliki pembeli yang bersedia membeli gabah miliknya dengan harga Rp490.000/kuintal.

Untuk memanen tanaman padi saat sekarang, katanya, petani dimudahkan karena tersedia combine harvester atau mesin pemanen yang prosesnya lebih cepat dan murah, dibandingkan menggunakan tenaga manusia. Lahan seluas 1 ha, katanya, hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam-4 jam, sedangkan tenaga manusia bisa seharian karena masih harus dirontokkan dengan cara tradisional.

Harga jual gabah yang dipanen dengan cara modern, katanya, lebih mahal, dibandingkan dengan cara tradisional sehingga banyak petani yang lebih memilih menggunakan mesin permanen.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara