Polmark Indonesia Sebut Elektabilitas Jokowi dari Partai Pendukung Turun 27%

CEO Polmark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, menjawab pertanyaan wartawan di Hotel Grand Arkenso, Kota Semarang, Rabu (13/3 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
14 Maret 2019 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Lembaga survei dan konsultasi politik, Polmark Indonesia, menyebut dukungan untuk pasangan calon (paslon) nomor urut 01 pada Pilpres 2019, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, dari kader partai pendukung mengalami penurunan sekitar 27%.

Hal itu disampaikan CEO Polmark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, saat menghadiri acara Forum Pikiran, Akal, & Nalar dengan tajuk Partai Politik: Diantara Pileg & Pilpres di Hotel Grand Arkenso, Kota Semarang, Rabu (13/8/2019).

Eep menyebutkan dalam survei yang digelar timnya di 73 daerah pemilihan (dapil), elektabilitas paslon 01, Jokowi-Ma’ruf masih berada di atas paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jokowi-Ma’ruf meraih 40,4% dukungan responden, sementara Prabowo-Sandi sekitar 25,8%, dan undecided voters atau belum menentukan pilihan sekitar 33,8%.

Survei itu dilakuakn di 73 dapil dengan jumlah responden mencapai 32.500 responden, dengan margin errors sekitar 3,4-4,8%.Survei itu dilakukan melalui wawancara dalam empat tahap selama kurun waktu Oktober 2018-Februari 2019.

Kendati unggul, menurut Eep kubu Jokowi-Ma’ruf layak waswas. Hal itu dikarenakan dukungan partai pendukungnya mengalami penurunan atau defisit sekitar 27%. Sedangkan, jumlah dukungan dari kader partai pendukung paslon 02 juga mengalami penurunan, namun jumlahnya tak terlalu signifikan atau sekitar 6,2%.

“Dengan kata lain, jumlah pendukung dari partai pendukung Jokowi ada sekitar 27% yang belum memutuskan untuk memilih paslon 01. Sedangkan di kubu Prabowo-Sandi, jumlah pendukung dari partai pendukung juga turun sekitar 6,2%,” ujar Eep saat diwawancarai wartawan seusai acara.

Eep menyebutkan angka defisit itu sangat penting bagi elektabilitas kedua kandidat Pilpres 2019. Angka itu bisa diartikan bahwa elektabilitas partai yang besar belum tentu membuat elektabilitas kandidat yang diusung juga tinggi.

“Ini menandakan jika pemilih di Indonesia, di 72 dapil yang disurvei, saat ini jauh lebih mandiri. Pengaruh tokoh atau kelompok yang jauh dari mereka semakin kecil. Justru pengaruh tokoh-tokoh terdekat, tetangga, RT, RW, semakin besar. Ini yang membuat para kandidat harus bekerja lebih keras. Mereka harus datangi rumah ke rumah untuk meraih dukungan,” jelas Eep.

Paslon 01, Jokowi-Ma’ruf, dalam Pilpres 2019 didukung 9 partai, yakni PDIP, PPP, PKB, Golkar, Nasdem, PSI, Perindo, PKPI, dan Hanura. Sedangkan, Prabowo-Sandi mendapat dukungan dari lima partai, yakni Partai Gerindra, Partai Demokrat, PKS, PAN, dan Partai Berkarya. Sedangkan PBB dan Partai Garuda belum menyatakan dukungan secara resmi.

Selain melakukan survei elektabilitas capres dan cawapres, Polmark Indonesia juga menyurvei pemilu legislatif (pileg). Eep menilai hasil elektabilitas Pileg dan Pilpres tidak akan jauh berbeda. Menurut Eep, partai yang kadernya maju sebagai capres maupun cawapres akan memiliki kesempatan lebih besar dipilih.

“Kader yang partainya menjadi kandidat pilpres bisa memiliki keuntungan electoral lebih besar. Dengan catatan kalau mereka bisa memanfaatkannya,” ujar Eep.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya