Di Semarang, Bekraf Dorong Industri Kuliner Lakukan Ekspor

Ilustrasi pelaku UMKM bidang kuliner di Semarang. (Bisnis)
14 Maret 2019 04:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Badan Ekonomi Kratif (Bekraf), Senin (11/3/2019), menyelenggarakan sosialiasi Kreatif Food 2019 di 10 kota termasuk Kota Semarang, Jawa Tengah.

Melalui kegiatan itu ditanamkan kesadaran bahwa pasar ekspor masih terbuka lebar dan belum dimanfatkan oleh para pelaku industri kreatif di Indonesia. Salah satu sektor industri kreatif yang belum memanfaatkan pasar ekspor itu adalah inustri kreatif bidang kuliner yang dianggap punya potensi besar untuk masuk pasar internasional.

Plt Direktur Pengembangan Pasar Dalam Negeri Bekraf, Fahmy Akmal, mengatakan jika kreatif food sebelumnya telah digagas Bekraf sejak tahun 2016, dengan melibatkan pemerintah, pihak swasta, dan pelaku usaha kratif untuk bisa mengembangkan ekonomi kratif di Indonesia.  “Pelaksanaan pada tahun ini diselenggarakan berbeda, dengan menajanjki akses dan peluang pasar dalam dan luar negeri, dengan pelaku kuliner yang punya kapasitas produksi dengan skala ekpor,” katanya.

Industri kreatif lanjut Fahmy, bisa dilakukan siapa saja termasuk generasi milenal, asalkan punya ide dan inovasi berupa produk ekonomi kreatif, jasa kreatif yang terbuka lebar untuk pasar dalam dan luar negeri dengan lima kategori, yakni food sevice, readt to eat, ready to drink, ingredients, dan food innovation.  “Semua industri kreatif yang sudah kapasitas dan kapabilitas akan difasilitasi. Kami akan memfasilitasi tempat pameran dan mendatangkan investor atau buyer dari luar ngeri untuk melihat produk mereka,” ucapnya.

Sementara itu, perwakilan Foodlab Indonesia, Yustinus Agung mengatakan jika industri kratif di Indonesia saat ini punya potensi yang besar untuk masuk ke pasar ekspor, termasuk dari segi kuliner. Biasanya industri kratif kuliner sendiri kurang bisa bersaing atau masuk ke pasar ekspor lantaran terkendala regulasi, permodalan, dan pemasaran.

“Dengan event ini, kami ingin para pelaku usaha untuk membuat sebuah ekosistem dan masuk ke pasar ekspor, caranya adalah mempertemukan pelaku usaha dengan market, misalnya agent, reseller dan distributor yang siap membantu untuk menjualan prorduk mereka,” tambahnya.

Pada era pasar terbuka saat ini, lanjut Yustinus, peluang kuliner sebagai salah satu cabang indutsri kratif bisa dbilang terbuka lebar dan bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk generasi milenial dengan konsep usaha  amati, tiru, dan modifikasi (ATM )berskala industri rumah tangga. "Biasanya pelaku industri kratif ini hanya melakukan penganatan dan meniru, tanpa melakukan modifikasi, sehingga tidak memiliki nilai tambah untuk dijual,” pungkasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis